Pengamat: Penanggulangan Banjir Bandung Butuh Peran Serta Masyarakat

Pengamat: Penanggulangan Banjir Bandung Butuh Peran Serta Masyarakat
net

INILAH, Bandung - Ketua Ikatan Alumni Teknik dan Pengelolaan Sumber Daya Air Institut Teknologi Bandung (ITB) Novaldy Agnial Fikri menilai, kejadian banjir di beberapa wilayah di Kota Bandung pada Kamis (24/12/2020) lalu masih meninggalkan trauma bagi sebagian besar korban. 

Menurutnya, di wilayah Kota Bandung terdapat sejumlah titik yang berada pada tingkat rusak berat bahkan menggerus rumah warga seperti di Astana Anyar dan merendam sejumlah kendaraan yang sedang melintas di Jalan Dr Djundjunan. Selain harta benda, banjir sering kali mendatangkan penyakit yang mengancam kesehatan warga terutama anak-anak. Ada juga kerugian yang tidak bisa dihitung seperti kemacetan yang menyebabkan tertundanya perputaran ekonomi.

"Dalam penanganan banjir ini membutuhkan peran serta masyarakat yang menjadi garda terdepan dalam menjalankan regulasi yang ada. Kesadaran terhadap kesehatan dan kebersihan lingkungan perlu kita tingkatkan mulai dari diri kita sendiri dan keluarga kita," kata Novaldy, Sabtu (26/12/2020).

Secara teori, dia menuturkan banjir merupakan kondisi air yang tergenang tidak bisa mengalir menuju saluran pembuang atau badan air di sekitarnya. Kondisi ini menyebabkan air tergenang memiliki kedalaman dan waktu surut yang lama. Berbeda dengan limpasan yang merupakan air mengalir di permukaan tanah yang memiliki kecepatan dan waktu surut relatif cepat. 

Banjir berdasarkan penyebabnya perlu penanganan yang berbeda. Ada dua penyebab utama banjir, pertama adalah saluran drainase yang tidak mampu mengalirkan debit akibat hujan yang terjadi sehingga air melimpas ke wilayah sekitarnya. Apabila seperti ini, upaya terbaik adalah melakukan normalisasi yang memiliki tujuan meningkatkan kapasitas saluran yaitu dengan pemperdalam saluran, memperlebar saluran, pemperbanyak saluran, atau mencuramkan kemiringan saluran agar air dapat cepat mengalir.

Penyebab kedua adalah air tidak sanggup mengalir ke saluran di sekitarnya hal ini bisa disebabkan karena saluran memiliki elevasi lebih tinggi dari daerah sekitarnya atau tersumbatnya kisi kisi air di saluran akibat sampah. Apabila kejadiannya seperti ini, maka salah satu alternatif terbaik adalah dengan memompa air di wilayah banjir yang memiliki elevasi rendah menuju saluran yang berada di elevasi lebih tinggi, atau membuat semacam bak tampungan (polder). Selain itu, pemeliharaan saluran akibat sampah dan sedimentasi perlu rutin dilakukan agar mengurangi risiko banjir.

Dia mengakui, sejauh ini banyak program yang sudah dijalankan pemerintahan kota, provinsi, dan pusat dalam menangani banjir di wilayah Kota Bandung. Namun, kejadian banjir yang senantiasa terjadi saat musim hujan tiba adalah bukti masih kurang maksimalnya penanganan yang dilakukan. 

"Saya kira, perlu dilakukan upaya preventif dan progresif beriringan dengan upaya responsif yaitu cepat tanggap kepada para korban banjir. Tentu saja sangat tidak bijak menyalahkan pemerintah dalam kejadian ini," ujarnya.

Novaldy menambahakn, kesadaran masyarakat terhadap lingkungan dan sungai di Kota Bandung sejauh ini relatif rendah. Bahkan, sebagian masyarakat masih nyaman tinggal di daerah bantaran banjir yang seharusnya menjadi badan sungai alami agar sungai dapat bermeander atau berpindah alur.

Seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk, banjir menjadi kekhawatiran yang timbul
termasuk pada generasi milenial untuk menentukan tempat tinggal. Wilayah yang jauh dari kawasan banjir menjadi salah satu pertimbangan utama untuk memiliki hunian. Masalah lainnya yakni aturan dan regulasi yang terus berubah dari suatu masa kepemimpinan ke kepemimpinan yang lain. (*)