Polda Jabar Tangkap Penjual Senpi Ilegal, Pelaku Utama Belajar Merakit di Rusia

Polda Jabar Tangkap Penjual Senpi Ilegal, Pelaku Utama Belajar Merakit di Rusia

INILAH, Bandung - Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Jabar menangkap kelompok perakit dan penjual senjata api (Senpi) Ilegal. Pelaku utama belajar merakit senpi di Rusia.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Erdi A Chaniago mengatakan, keenam pelaku diamankan pada tanggal 23 Desember 2020. Pelaku utama ditangkap dikediamannya di Ciamis, kemudian penyidik melakukan pengembangan dan berhasil mendapatkan seluruh tersangka yang berjumlah enam orang, berinisal DRJ, ASU, IN, SU, DS, dan SE.

"Ini dilakukan oleh enam orang tersangka. Pengungkapan ini dikakukan di ciamis, dan alhamdulillah kita mendapat barang bukti pembeli penjual amunisi dan alat bubut untuk merakitnya," ucap Erdi saat ungkap kasus di Mapolda Jabar, Jalan Soekarno-hatta, Kota Bandung, Rabu (30/12/2020).

Erdi mengungkapkan, pelaku utama DRJ belajar merakit sebuah senjata di Rusia. Pada saat itu, DRJ berprofesi sebagai Anak Buah Kapal (ABK).

"DRJ ini belajar merakit senpi saat jadi abk di rusia, di suatu kapal kargo, diperdalam secarra otodidak," ungkap Erdi.

Selain itu, Erdi menjelaskan masing-masing pelaku memiliki peran dan tugasnya masing-masing. Diantaranya, ada yang merakit, menjual hingga mencari peluru senjata api ilegal tersebut.

"ASU menerima jasa pembuatan chamber, dan pengerjaan popor, IN punya keahlian yang sama membuat chamber dan popo. SU memesan senjata api ke DRJ. DS membeli satu pucuk senpi yang sudah dirakit DRJ. SE mendapat pelurunya sewaktu latihan menembak di perbakin," tuturnya.

Lebih lanjut, Erdi menjelaskan, senjata api yang dirakit DRJ dan kawan-kawan merupakan senjata api laras panjang. Diantaranya, senjata jenis LE yang biasa digunakan organik Polri.

"Senjata ini jenis LE, dulu ini senjata yang digunakan organik polri, jenis LE yang pernah menjadi senjata organik polri, sekarang ini dirakit dari kaliber besar menjadi kaliber lebih kecil menjadi 5,56 milimeter," ujar Erdi.

Ditemui ditempat yang sama, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Barat Kombes CH Patoppoi menuturkan, motif para pelaku merakit dan menjual senjata api ilegal tidak lain karena permasalahan ekonomi.

"Profesinya ini mantan anak buah kapal, motifnya ini hanya motif ekonomi, jadi yang sudah dirakit ini sudah ditangkap juga pelaku pembeli, penangkapan ini dimulai dari ciamis, dikembangkan garut, dan sampai ke cikampek dan kuningan, baik perakit pembuat pembeli sudah kita amankan semua, termasuk yang belum jadi ini senpinya," ucap Patoppoi.

Patoppoi menyebutkan, para pelaku memulai bisnis senpi ilegalnya sejak awal tahun 2019. Berdasarkan pengakuan tersangka, kelompok ini telah berhasil menjual 6 pucuk senpi ilegal.

"Untuk yang berhasil dirakit ini ada 6 senpi, ini untuk sniper lah. Harganya bisa mencapai 5 hingga 10 juta rupiah," pungkasnya.

Atas perbuatannya, para tersangka dikenakan Pasal 1 ayat 1 UU Darurat no 12 tahun 1951 tentang senjata api. Kemudian, Pasal 55, 56 KUHP Jo Pasal 1 ayat 1 UU Darurat no 12 tahun 1951. Para tersangka terancam hukuman mati atau penjara seumur hidup atau hukuman penjara setinggi-tingginya selama 20 tahun. (Ridwan Abdul Malik)