Berbagi Kasih dari Bandung ke Kadugede

Berbagi Kasih dari Bandung ke Kadugede
net

INILAH, Bandung - Alhamdulillah. Demikian ucap Muhammad Rai Syamil (35) dalam hati, sesaat usai mendengar kabar paket kirimannya diterima. Kabar baik itu datang dari sang kakak yang tinggal di Kadugede, Kabupaten Kuningan.

Dia mengaku beberapa waktu lalu mengirim paket ke orang tuanya yang kini menetap sementara di rumah sang kakak. Ibunya sejak Maret lalu terkena serangan stroke yang mengakibatkan separuh organ tubuhnya tak berfungsi normal.

Sebenarnya, ayah dan ibunya tinggal di Tasikmalaya. Namun, dikarenakan di sana tidak ada orang yang bisa mengurus sehari-hari maka ayah dan ibunya memutuskan hijrah ke Kuningan.

Mengenai isi paket, Rai menyebutkan kirimannya hanya berupa buah mangga. Kebetulan, di rumahnya ada tiga pohon mangga. Satu pohon mangga cengkir dan dua pohon mangga gedong gincu yang berusia lebih dari sepuluh tahun.

Sejak September lalu, ketiga pohon musiman itu pun mulai berbunga dan berbuah. Seperti biasa, pada Desember ini buah-buah mangga itu bisa dipetik.

“Buah mangga cengkir dan gedong itu yang saya kirimkan ke orang tua. Waktu itu, saya hanya mengambil beberapa buah yang dimasukkan dalam satu dua besar,” kata Rai kepada INILAH, beberapa waktu lalu.

Dia menyebut, paketnya saat itu dikirim melalui JNE. Sebab, cuma perusahaan jasa logistik itu yang berada dekat rumahnya di seputaran Ujungberung, Kota Bandung. Saat berada di gerai, petugas berseragam merah-abu-abu tersebut menimbang bobot paket yang relatif berat.

“Si petugasnya bilang, berat paketnya 17 kg. Kalau ngirim dari Bandung ke Kadugede, dengan paket reguler itu ongkosnya Rp272 ribu. Soalnya, ongkir (ongkos kiriman) ke sana dari Bandung Rp16 ribu per kg. Terus saya bilang, ya atuh yang paket reguler saja,” sebutnya.

Rai pun lantas menanyakan estimasi kedatangan paket. Si petugas menyebutkan, dengan paket reguler itu kiriman barang diperkirakan sampai tujuan dalam waktu tiga-lima hari. Selain itu, paket tersebut akan dikemas menggunakan rangka kayu agar aman dari benturan.

Di kemudian hari, tiga hari sejak paket dikirim dia mengaku ada kabar ke ponselnya. Saat itu, sang ayah menghubungi untuk memberi kabar paketnya sudah diterima.

Dia menuturkan, di balik kebahagiaan itu sebetulnya ada kesedihan yang menyelinap di benaknya. Sebab, kondisi pandemi Covid-19 mengakibatkan dia tak bisa bertatap muka dengan kedua orang tuanya. Dalam kondisi normal, biasnya dia membawa serta buah mangga saat pulang kampung.

Lebaran tahun ini pun dia tak bisa mudik ke Tasikmalaya dimana orang tuanya tinggal. Adanya larangan mudik saat itu memaksanya hanya berkirim kabar melalui layanan video call saja.

“Eh, ternyata sampai Desember pun pandemi masih terjadi. Tapi, alhamdulillah dengan JNE saya bisa berbagi kebahagiaan dengan orang tua saya. Memang, sebenarnya buah mangga itu banyak dijual di sana, tapi mangga dari rumah itu beda. Apalagi, beberapa tahun lalu saat masih sehat waktu itu ayah dan ibu ikut menanam juga. Buah mangga hasil mereka tanam ini semoga bisa menjadi obat penawar kesembuhannya,” jelas Rai dengan hakulyakin.

Paket kiriman Rai itu merupakan salah satu dari sekian puluh juta paket yang dikelola PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE). VP of Marketing JNE Eri Palgunadi menyebutkan, setiap akhir tahun perayaan Natal dan Tahun Baru menjadi salah satu momen yang tepat bagi JNE untuk tetap berbagi kebahagiaan. Momen itu diakuinya merupakan salah satu peak season dimana jumlah kiriman meningkat sekitar 15-20%.

Bertepatan dengan 30 tahun JNE pada 2020 ini, Eri menyebutkan pihaknya mengambil tema Bahagia Bersama. Dia juga mengatakan pada saat perayaan hari besar keagamaan atau yang lainnya, titik layanan JNE di seluruh Indonesia semakin ramai karena banyak pelanggan yang mengirimkan paket.

Pada kondisi pandemi Covid-19, JNE pun melayani masyarakat Indonesia di bidang jasa pengiriman ekspres dan logistik sehingga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas dan lingkungan sekitar. Salah satunya dengan kepedulian menggratiskan pengiriman penanganan Covid-19.

Sejauh ini kurang lebih 100 ton kiriman yang sudah dikirimkan ke 865 rumah sakit, 450 puskesmas, serta 1.135 lembaga dan perorangan di seluruh Indonesia yang masih terus berjalan hingga saat ini. Untuk itu, JNE bersyukur dapat turut berkolaborasi dengan berbagai institusi, lembaga, instansi, dan start up untuk mewujudkan langkah yang bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.

“Di masa pandemi Covid-19, JNE tetap memberikan pelayanan yang prima dengan mengedepankan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah. Hal ini dilakukan agar seluruh kebutuhan pengiriman dapat terlayani dengan baik dan aman sampai ke pelanggan sebagai satu kesatuan mata rantai e-commerce yang tidak terpisahkan yaitu marketplace, fintech, dan logistik,” tutur Eri dalam rilis yang diterima.

Sementara itu, Presiden Direktur JNE M Feriadi Soeprapto mengatakan dalam menjalankan bisnis logistik ini pihaknya berpegang teguh pada jargon Connecting Happiness.  

“Maknanya sangat luas, sehingga jika bicara tentang JNE maka bukan hanya tentang pengiriman paket. Namun dalam berbagai aspek di setiap kehidupan masyarakat. Hal ini karena empat sektor yaitu SDM, infrastruktur, teknologi informasi, dan lingkungan sekitar yang menjadi perhatian utama perusahaan,” jelasnya seraya menyebutkan visi perusahaan sejalan dengan nilai-nilai yang dijunjung H Soeprapto Soeparno sebagai pendiri JNE. (doni ramdhani)