Pesan Ketua DPC PDIP Garut Terpapar Covid19, Protkes 'Kudu' Jadi Kebiasaan

Pesan Ketua DPC PDIP Garut Terpapar Covid19, Protkes 'Kudu' Jadi Kebiasaan
istimewa

BERSENDIRIAN terbaring selama sebelas hari di ruang isolasi RSU dr Slamet Garut karena terpapar Covid-19 mengajari Yudha Puja Turnawan banyak hal. 

Salah satunya, untuk selalu bersikap optimis dalam menghadapi apapun dan betapa pentingnya selalu berdisiplin menjalankan protokol kesehatan secara benar dan sungguh-sungguh guna mencegah penularan Covid-19 yang hingga kini masih belum diketahui kapan berakhir.

"Saya juga tidak tahu, tertular Covid-19 dari siapa atau di mana ? Sebab saya sendiri selalu berusaha disiplin menjalankan protokol kesehatan dalam berbagai kegiatan. Memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan pakai sabun," kata Ketua DPC PDIP Kabupaten Garut yang juga anggota Komisi IV DPRD Garut itu, Rabu (30/12/2020).

Namun begitu, Yudha pun menyadari dari mobilitasnya yang tinggi, baik dalam kapasitasnya sebagai ketua partai maupun legislator, ada kalanya ketika berhubungan dengan banyak orang, maskernya dilepas, atau terdapat kontak fisik, kendati hanya beberapa saat. 

Pria kelahiran Garut 11 Mei 1981 itu memang dikenal memiliki mobilitas tinggi, terutama berkaitan kegiatan sosial. Tak segan turun langsung mengulurkan tangan terhadap mereka yang terkena kebakaran atau bencana alam. Membantu masyarakat tak mampu yang kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan, dan membantu pembangunan rumah tak laik huni yang ditempati kalangan jompo. 

Sewaktu masih dalam perawatan di ruang isolasi RSU dr Slamet Garut, Yudha bahkan masih sempat memimpin kadernya bergotong royong membantu pembangunan sebuah rumah tak laik huni milik jompo di Kelurahan Lebak Jaya Kecamatan Karangpawitan. Kendati kehadirannya hanya diwakilkan yang lain.

Yudha menuturkan, diketahui dirinya terpapar Covid-19 bermula ketika merasakan tubuhnya meriang atau menggigil. Kemudian memeriksaan diri ke sebuah klinik swasta dan hasilnya dinyatakan mengalami gejala sakit demam berdarah dengue (DBD). 

Setelah itu, Yudha pun bertolak ke RSU dr Slamet Garut untuk berobat ke bagian penyakit dalam. Namun sebelum diperiksa lebih jauh, pihak rumah sakit mengharuskannya menjalani tes swab. Dia pun menurutinya. 

Dalam rentang semalam, hasil tes swab keluar, dan hasilnya ternyata dia dinyatakan positif Covid-19. Seketika, dia langsung diisolasi di ruang isolasi khusus Covid-19 di Gedung Puspa RSU dr Slamet Garut, dengan gejala sakit DBD, dan positif Covid-19.

Kendati sempat terheran-heran karena merasa selalu disipin melaksanakan protokol kesehatan, Yudha bersicepat mengumumkan secara terbuka mengenai kondisinya yang positif Covid-19. Selain meminta maaf terutama kepada para kader PDIP yang sempat datang ke kantor DPC PDIP Garut Jalan Merdeka Tarogong Kidul maupun berkegiatan bersama dalam seminggu terakhir, Yudha juga meminta mereka yang sempat ada kontak atau berkegiatan bareng untuk melakukan tes swab. 

"Karena jabatan, saya mesti terbuka. Jadi, begitu hasil swab saya positif Covid-19 dan harus diisolasi, ada rasa bersalah dan pikiran saya langsung tertuju pada kader dan orang-orang yang pernah ada kontak kegiatan setidaknya dalam seminggu terakhir, terutama di tiga titik kegiatan baksos. Saya minta semuanya dilakukan tes swab. Dan, Alhamdulillah ! Hasilnya semua negatif," kata Yudha yang mulai diisolasi pada 18 Desember 2020.

Hanya, lanjutnya, ketika anggota keluarga juga diswab termasuk sopir pribadinya, salah satu adiknya serta sopir pribadinya itu dinyatakan positif Covid-19 dengan status orang tanpa gejala (OTG). Keduanya kini sudah dinyatakan sembuh. 

Yudha juga menyampaikan kondisinya ke Komisi IV dan meminta semua anggota dilakukan tes swab.

"Saya enggak tahu, apakah mereka melakukan tes swab, atau tidak. Yang jelas, surat perintah dari Ketua DPRD-nya sudah ada," ujarnya.

Yudha menyebutkan, dirinya sempat agak terguncang sewaktu dalam isolasi di rumah sakit itu ada sepasang suami isteri terkena Covid-19, dan sang suami kemudian meninggal dunia setelah mengalami sesak napas berat. Apalagi kondisinya saat itu masih belum stabil, tubuhnya masih menggigil, dan pernapasan masih harus dibantu oksigen.  

"Tapi saya pasrah saja dengan tetap berusaha optimis kondisi ini bisa dilalui. Alhamdulillah, setelah sebelas hari diisolasi, kondisi saya membaik, dan boleh pulang karena sudah negatif (covid-19). Tapi untuk menghindari sesuatu yang tak diharapkan, sampai sekarang saya masih belum bisa bertemu anak saya. Mungkin Senin depan," kata Yudha.

Dari pengalaman terkena Covid-19 dan berbagai kunjungan ke daerah, Yudha pun mengingatkan masyarakat agar benar-benar bisa menjadikan protokol kesehatan sebagai kebiasaan dalam kegiatan sehari-hari untuk mencegah penularan Covid-19. Apalagi sekarang muncul jenis baru mutasi Covid-19.

Berkaitan penanganan Covid-19 di Garut sendiri, Yudha menilai masih dibutuhkan ketegasan lagi terutama berkaitan upaya preventif. Bukan hanya soal protokol kesehatan, meningkatkan keimanan, memakai masker dengan benar, menjaga jarak, mencuci tangan pakai sabun di air mengalir, dan menjaga imunitas tubuh dengan pola hibup bersih dan sehat, melainkan juga pembatasan sejumlah kegiatan. Semisal harus ada pembatasan jam operasional tempat berkumpul banyak orang, termasuk warung, kafe, atau rumah makan.

"Di daerah lain, tempat makan itu buka sampai jam delapan (malam). Di Garut, sampai jam sembilan (malam) masih ada yang buka. Apilikasi online belum optimal. Garut masih longgar. Pemakaian masker juga, masyarakat di Garut masih kurang sadar. Makanya, dalam berbagai kegiatan di lapangan, kita selalu sempatkan pembagian masker juga," kata Yudha.

Sedangkan upaya kuratif, khususnya penanganan pasien positif Covid-19 di rumah sakit, Yudha menilai sudah cukup baik dan optimal. 

"Kebutuhan makan, obat-obatan dan vitamin cukup baik. Nakes (tenaga kesehatan) cukup telaten dan selalu berupaya agar pasien tidak down (mentalnya mengedrop). Ruangan juga selalu dibersihkan, diseterilkan tiga kali sehari," ujarnya.(zainulmukhtar)