Selesai Haid belum Mandi Junub, Bolehkah Jimak?

Selesai Haid belum Mandi Junub, Bolehkah Jimak?
Ilustrasi/Net

ADAPUN perbuatan yang haram dilakukan oleh wanita yang sedang haid, sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Alquran dan As-sunnah adalah bersetubuh:

Wanita yang sedang mendapat haid haram bersetubuh dengan suaminya. Keharamannya ditetapkan oleh Alquran Al-Kariem berikut ini: "Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: `Haid itu adalah suatu kotoran`. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri." (QS Al-Baqarah: 222)

Yang dimaksud dengan menjauhi mereka adalah tidak menyetubuhinya. Sedangkan al-Hanabilah membolehkan mencumbu wanita yang sedang haid pada bagian tubuh selain antara pusar dan lutut atau selama tidak terjadi persetubuhan. Hal itu didasari oleh sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika beliau ditanya tentang hukum mencumbui wanita yang sedang haid maka beliau menjawab:

`Dari Anas radhiallahu 'anha bahwa orang Yahudi bisa para wanita mereka mendapat haid, tidak memberikan makanan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Lakukan segala yang kau mau kecuali hubungan badan." (HR Muslim)

Dari Aisyah radhiallahu 'anhu berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan aku untuk memakain sarung, beliau mencumbuku sedangkan aku dalam keadaan datang haid." (HR Muslim)

Keharaman menyetubuhi wanita yang sedang haid ini tetap belangsung sampai wanita tersebut selesai dari haid dan selesai mandinya. Tidak cukup hanya selesai haid saja tetapi juga mandinya. Sebab di dalam al-Baqarah ayat 222 itu Allah menyebutkan bahwa wanita haid itu haram disetubuhi sampai mereka menjadi suci dan menjadi suci itu bukan sekedar berhentinya darah namun harus dengan mandi janabah, itu adalah pendapat al-Malikiyah dan as Syafi`iyah serta al-Hanafiyah.

Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. [Ahmad Sarwat, Lc.]