DPRD Jabar Cemas Dampak PJJ Berkepanjangan

DPRD Jabar Cemas Dampak PJJ Berkepanjangan
net

INILAH, Bandung – Sejak pandemi Covid-19 melanda, hampir semua aktivitas yang bersifat kerumunan harus dibatasi, salah satunya kegiatan belajar mengajar (KBM). Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) terpaksa ditempuh, guna mencegah penularan secara massif. 

Hanya saja dalam pelaksanaannya masih banyak kekurangan, karena sejumlah keterbatasan. Para pendidik pun dituntut lebih kreatif, agar siswa dapat menyerap ilmu dengan baik. Meski pada akhirnya tetap saja masih belum maksimal.

Anggota Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat Siti Muntamah mengaku cemas akibat dampak terlalu lama menjalani PJJ sebab akan memengaruhi tumbuh kembang anak. Belum lagi dari sisi mental, yang dinilainya sangat berpengaruh lantaran berimbas dengan minimnya hubungan sosial dalam lingkungan anak.

“Jika kita lihat dalam situasi sekarang, besar kemungkinan PJJ diperpanjang. Apalagi katanya kota dan kabupaten di Jawa Barat sudah sepakat begitu. Terus terang, kita khawatir jika PJJ terlalu lama. Selain akan membuat semangat belajar anak-anak menurun, tapi juga berdampak pada mental dan konsep diri mereka. Sementara di sisi lain, kita juga tidak ada pilihan. Saya yakin, pemerintah dan kita semua sekarang pasti bingung karena ini situasi yang baru,” kata Siti kepada INILAH, Selasa (5/1/2021).

“Apalagi musibah ini diprediksi akan lama. Kita enggak ada yang tahu kapan akan berakhir Covid-19 ini. Enggak ada yang mengatakan 2021 atau 2022 ini selesai. Malah ada yang ngomong 2025 baru bisa turun dan recovery. Tidak bisa dibayangkan, bagaimana mental mereka mulai dari masuk sekolah sampai selesai seperti anak-anak SMP dan SMA atau SMK, tiba-tiba terima ijazah,” sambungnya.

Dia berharap, para orang tua dapat memahami situasi saat ini sehingga betul-betul membimbing anak selama menjalani PJJ. Sampai akhirnya KBM tatap muka kembali dilaksanakan, agar menjaga mental anak agar tidak jatuh. Serta mengawasi penggunaan media daring, supaya tidak terpengaruh akan konten negatif.

“Semoga para orang tua dapat mengerti dan dapat menjalani peran mereka selama proses PJJ ini. Kita harus menjaga anak-anak kita. Semua sedang berjuang sekarang, baik masyarakat maupun pemerintah. Kedewasaan kolektif kita sedang diuji pada hari ini, dalam menjalani musibah yang sedang kita hadapi sekarang,” tutupnya. (Yuliantono)