Sikap Kami: Bola di Tangan Orang Tua

Sikap Kami: Bola di Tangan Orang Tua

PEMBELAJARAN tatap muka itu sebuah pilihan. Karena itu, bola kini ada di tangan orang tua. Mau mengambil risiko melepaskan anak ke sekolah dengan risiko –sebarapapun kecilnya—terpapar virus corona?

Rencana kembali belajar di kelas ini, sejatinya, wadah yang disiapkan pemerintah, dari pusat hingga ke daerah. Dia untuk mengakomodasi keluhan orang tua terhadap beban anak-anaknya melakukan belajar di rumah (BdR) atau pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Karena opsi, pemerintah tidak mewajibkan. Bahkan jika dilakukan KBM tatap muka pun, persyaratan ketat harus dilewati. Pertama, pemberlakuan protokol kesehatan yang ketat, termasuk pembatasan jumlah pelajar yang masuk. Kedua, zonasi Covid-19 ikut menentukan. Ketiga, dan ini yang paling penting, harus ada izin dari orang tua.

Di Jawa Barat, lebih dari 1.700 sekolah tingkat SMA, menyatakan kesiapannya. Berasal dari 15 daerah. Tapi, ada juga daerah yang kemudian mundur. Kabupaten dan Kota Bogor, misalnya. Belakangan, Kabupaten Purwakarta menyusul. Maka, tinggal 11 daerah yang masih berniat melakukannya terhitung 11 Januari nanti.

Jika pemerintah membuka opsi, maka kini tinggal kewajiban orang tua untuk memilih. Tak ada paksaan. Bahkan, jika KBM tatap muka pun, pelajar diberi hak untuk tidak mengikuti dan mengambil pilihan BdR.

Dalam kaitan ini, kita menyarankan kepada orang tua untuk sangat hati-hati. Virus corona bukanlah main-main. Di Jawa Barat saja, sudah lebih 1.000 orang meregang nyawa karenanya. Di antara mereka termasuk juga anak-anak dalam usia sekolah.

Kita kembali mengingatkan, persoalan zonasi bukanlah jaminan bahwa virus tak bisa masuk ke sekolah. Ada hal di mana peluang masuknya virus tetap terbuka. Dari perpindahan pelaku pendidikan dari satu titik ke titik lain, termasuk titik sekolah. Dari alat transportasi yang digunakan ketika pelaku pendidikan menuju dan pulang dari sekolah. Atau, bahkan dari lingkungan keluarga sendiri.

Bukan bermaksud pesimistis, perlu juga kita sampaikan fakta, dalam beberapa hari ini, penambahan pasien positif di Jawa Barat hampir selalu di angka 1.000 setiap hari. Itu artinya Covid-19 masih jadi masalah luar biasa.

Kita berharap ini menjadi bahan pertimbangan bagi orang tua sebelum mengizinkan anaknya datang ke sekolah. Bagi kita, lebih baik mengorbankan waktu ikut mendampingi pendidikan anak-anak di rumah (BdR) ketimbang melepas mereka ke ruang yang belum kita yakini akan menghindarkan anak-anak dari ancaman virus.

Anak-anak butuh pendidikan, kita sepakat. Tapi, sebaiknya kita juga sepakat, bahwa kesehatan anak-anak, terutama di saat pandemi ini, adalah persoalan nomor satu. Karena itu, berpikir matanglah sebelum mengizinkan anak mengikuti pembelajaran tatap muka. (*)