Wall Street Jatuh karena Ambil Untung dari Rekor Tertinggi Minggu Lalu

Wall Street Jatuh karena Ambil Untung dari Rekor Tertinggi Minggu Lalu
Ilustrasi (antara)

INILAH, New York - Indeks-indeks utama Wall Street jatuh pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), karena investor mengambil beberapa keuntungan dari rekor tertinggi sepanjang masa yang mereka cetak minggu lalu, sementara menunggu musim laporan laba dimulai dan mengamati peristiwa di Washington.

Indeks Dow Jones Industrial Average berkurang 89,28 poin atau 0,29 persen menjadi ditutup di 31.008,69 poin. Indeks S&P 500 turun 25,07 poin atau 0,66 persen menjadi berakhir pada 3.799,61 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup jatuh 165,54 poin atau 1,25 persen, menjadi 13.036,43 poin.

Tujuh dari 11 sektor utama S&P 500 berakhir di zona merah, dengan consumer discretionary dan layanan komunikasi masing-masing merosot 1,89 persen dan 1,76 persen, memimpin kerugian. Sementara sektpr energi terangkat 1,62 persen, merupakan sektor dengan kinerja terbaik.

Saham-saham AS telah reli kuat minggu lalu ketika investor bertaruh bahwa kemenangan Demokrat dalam pemilihan putaran kedua di Georgia akan membawa kemungkinan yang lebih tinggi dari paket stimulus fiskal yang lebih kuat untuk meningkatkan ekonomi yang dihantam pandemi.

Tetapi beberapa investor khawatir stimulus dapat ditunda karena Demokrat DPR memperkenalkan resolusi untuk mendakwa Presiden AS Donald Trump, menuduhnya menghasut pemberontakan menyusul serangan kekerasan di Capitol oleh para pendukungnya.

Investor mengalihkan fokus mereka ke Washington. Ketua Dewan Perwakilan Rakyat AS Nancy Pelosi mengatakan pada Minggu (10/1/2021) bahwa Demokrat siap memulai proses untuk memakzulkan Presiden Donald Trump untuk kedua kalinya hanya dalam waktu satu tahun.

"Ketika pasar melihat sesuatu yang sama pentingnya dengan pemerintahan Amerika Serikat, bahkan sedikit ketidakpastian dapat memiliki dampak yang berarti," kata Brad McMillan, kepala investasi di Commonwealth Financial Network di Waltham, Massachusetts.

McMillan mengatakan investor juga khawatir tentang lebih banyak serangan. FBI telah memperingatkan kemungkinan protes bersenjata yang sedang direncanakan untuk Washington, D.C., dan di semua 50 ibu kota negara-negara bagian AS menjelang pelantikan Presiden terpilih Joe Biden pada 20 Januari, sumber penegak hukum federal mengatakan pada Senin (11/1/2021).

"Secara umum, Washington tidak membuat terlalu banyak perbedaan, tetapi karena kebijakan memengaruhi begitu banyak hal yang diharapkan seputar perekonomian, ini adalah waktu yang unik," kata McMillan.

Tetapi imbal hasil obligasi AS naik ketika obligasi safe haven dijual pada Senin (11/1/2021) dan sektor yang sensitif secara ekonomi seperti energi dan keuangan berkinerja lebih baik, sementara sektor proksi obligasi defensif seperti utilitas dan real estat dilanda aksi jual.

Perdagangan ini menunjukkan, kata Keith Lerner, kepala strategi pasar di Truist Advisory Services di Atlanta, Georgia, bahwa investor masih berharap tentang stimulus.

Dan bersama dengan kewaspadaan tentang sembilan hari terakhir Trump menjabat, Lerner mengutip ketidakpastian menjelang dimulainya musim laporan laba tidak resmi pada Jumat (15/1/2021) ketika bank-bank seperti JPMorgan melaporkan kinerja keuangannya.

Saham Twitter Inc anjlok 6,4 persen dan membebani sektor komunikasi setelah situs mikro-blogging secara permanen menangguhkan akun Trump. Tetapi sahamnya masih lebih dari 160 persen lebih tinggi dari tempat mereka diperdagangkan sebelum Trump memenangkan pemilihan Presiden pada 2016.

Perusahaan Teknologi Besar lainnya Facebook Inc, Google milik Alphabet Inc, dan Apple Inc juga melemah pada Senin (11/1/2021) karena mereka mengambil tindakan terkuat mereka terhadap Trump untuk membatasi jangkauan media sosialnya.

Saham Boeing Co jatuh 1,5 persen pada Senin (11/1/2021) setelah sebuah jet 737-500 yang dioperasikan oleh Sriwijaya Air Indonesia dengan 62 orang di dalamnya jatuh pada Sabtu (9/1/2021).

Di bursa AS, 14,08 miliar saham berpindah tangan pada hari Senin dibandingkan dengan rata-rata 11,87 miliar untuk 20 sesi terakhir. (antara)