Hikmah Adanya Syariat Tobat bagi Pendosa

Hikmah Adanya Syariat Tobat bagi Pendosa
Ilustrasi/Net

DARI Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Setiap anak Adam adalah orang-orang yang pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang pernah melakukan kesalahan adalah orang yang bertobat." (HR. Tirmidzi, no. 2499, Ibnu Majah, no. 4251, dan Ahmad, 3:198)

Nabi shallallahu alaihi wa sallam menyatakan bahwa sebuah keniscayaan bagi anak Adam melakukan perbuatan dosa, mereka pasti pernah melakukan kesalahan. Namun pernyataan Nabi ini jangan disalahartikan bahwasanya melakukan perbuatan dosa itu adalah sesuatu yang dimaklumi dan dipahami sebagai perbuatan manusiawi yang harus ditolerir. Nabi shallallahu alaihi wa sallam melanjutkan harus adanya tobat dan berlepas diri dari perbuatan dosa untuk menjadi hamba yang baik.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak pernah berbuat dosa, niscaya Allah akan mengganti kalian dengan mendatangkan suatu kaum yang kemudian kaum tersebut berbuat dosa, kemudian mereka meminta ampun kepada Allah, dan Allah akan mengampuni mereka." (HR. Muslim).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan, "Allah Subhanahu wa Taala menakdirkan seorang hamba pasti terjerumus dalam perbuatan dosa sehingga terasalah baginya ampunan dan maaf dari Allah (bagi yang bertobat). Dan di antara nama Allah adalah Maha Penerima Tobat, Maha Pengampun, dan Maaf Pemaaf." (Nurun ala Darb).

Inilah hikmah adanya syariat tobat. [konsultasisyariah]