Sedih dan Prihatin Kondisi Pendidikan Saat Pandemi

Sedih dan Prihatin Kondisi Pendidikan Saat Pandemi
Ilustrasi (okky adiana)

INILAH, Bandung – Sudah 10 bulan berlalu pembelajaran tatap muka (PTM) di setiap sekolah ditiadakan. Seluruh instrumen yang ada di bidang pendidikan termasuk guru pun merasa sedih dengan keadaan ini karena adanya virus Covid-19 atau yang disebut pandemi.

Tidak ingin penularan Covid-19 semakin merajalela, pemerintah pun memutuskan untuk memindahkan ruang belajar ke dunia maya. Program tersebut bernama pembelajaran jarak jauh (PJJ). Salah satu sekolah yang terdampak adalah Sekolah Dasar Terpadu (SDT) Krida Nusantara, Bandung.

Pihak sekolah harus mengurangi waktu jam pembelajaran. Semula delapan jam PTM, hanya menjadi tiga jam dan satu jam lagi untuk digunakan pembiasaan.

"Pembelajaran melalui jaringan pasti banyak hambatan, dalam artian respons siswa dalam menerima pembelajaran pasti tidak akan maksimal. Mungkin sekolah lain pun sama lah agak sedikit terhambat," ujar Kepala SDT Krida Nusantara, Asep Dani Mardiani, kepada INILAHKORAN, Selasa (19/1/2021).

Kendati begitu, pihak sekolah terus berusaha agar peserta didik bisa melakukan pembelajaran. SDT Krida Nusantara Bandung, harus bisa menumbuhkan jiwa sekolah, semangat belajar siswa dan berkreasi tetap mengadakan pembelajaran nonakademik, seperti menulis, kegiatan lomba-lomba, Krida mencari bakat, namun melalui virtual.

Sebagai seorang pendidik, Asep pasti merasa sedih dan prihatin dalam kondisi sekarang ini karena pandemi. Pihaknya merasa kehilangan satu generasi yang mana mereka sudah kehilangan sentuhan pendidikan berupa karakter ilmu pengetahuan.

Dia berharap, seorang guru harus sabar dalam cobaan ini dan terus inovatif jangan menyerah dalam keadaan dan menggali potensi yang ada teknologi, sehingga bisa berkreasi dengan hal-hal yang baru.

"Terus untuk yang lainnya untuk siswa jangan putus asa dengan keadaan, intinya ini adalah ujian Insyaallah kita bisa melewati dan jaga karakter," tambah Asep.

Sementara itu, Pengamat Pendidikan, Dan Satriana menambahkan pihaknya sudah memahami bahwa PJJ bukan merupakan pilihan yang ideal dan sebagian besar belum terbiasa dengan pembelajaran seperti ini. Namun, kondisi seperti ini juga dapat dilihat sebagai kesempatan untuk bersama-sama me-review dan memperbaiki penyelenggaraan pembelajaran selama ini.

"PJJ dapat dilihat sebagai kesempatan kita semua untuk mengembangkan metodologi pembelajaran yang lebih inovatif, meningkatkan keterlibatan keluarga dan lingkungan dalam proses pembelajaran, maupun pembelajaran yang berorientasi pada pembangunan karakter dan kontekstual dengan kehidupan sehari-hari. Kita malah menjadi rugi jika tidak dapat mengambil pelajaran dari kondisi pandemi ini," pungkas Dan. (okky adiana)