Dendam Menghancurkan Pikiran dan Akhlak

Dendam Menghancurkan Pikiran dan Akhlak
KH Abdullah Gymnastiar

ALLAH Swt berfirman, "Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan.Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik.Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan, seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia."(QS. Fushilat [41]: 34).

Dendam itu buah dari hati yang merasa terluka atau merasa haknya dilanggar. Makin kuat dendam seseorang, akan semakin besar kemungkinan ia untuk marah, dengki, dan tidak suka melihat orang lain mendapatkan nikmat. Malah, ada perasaan senang manakala orang lain sengsara atau celaka. Makin besar dendam, maka seseorang akan sedaya upaya mencari cara untuk mencemarkan bahkan mencelakakan orang lain yang membuatnya kecewa.Naudzubillahi mindzalik.

Nabi Muhammad Saw bersih dari dendam. Betapapun beliau dihina, dicaci, bahkan diintimidasi secara fisik, beliau justru memaafkan semuanya. Sifat pemaaf beliau sangat tinggi dan agung. Tidak sedikit orang yang menyakiti beliau, namun beliau sikapi dengan keluhuran akhlak hingga akhirnya orang-orang itu mendapatkan hidayah.

Dendam selain akan menghancurkan kebahagiaan kita, juga akan menghancurkan pikiran dan akhlak kita. Dendam juga bisa menghancurkan dunia dan akhirat kita. Maka, balaslah keburukan orang lain itu dengan kebaikan. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk bersikap baik kepada kita. Tapi, kita bisa memaksa diri kita untuk bersikap baik pada orang lain.

Bagaimana tekniknya? Allah Swt berfirman, "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dhalim."(QS. Al Hujurt [49]: 10-11).

Kuncipertamaadalah latihan. Tetangga adalah saudara seiman. Keponakan adalah saudara seiman. Makin tebal rasa persaudaraan kita, akan semakin ringan hidup ini. Sayangnya, sedikit saja kita tersinggung, dengan mudahnya kita bermusuhan. Akhirnya, tidak sedikit yang menjadi musuh kita. Anak menjadi musuh, mertua pun jadi musuh, tak ketinggalan tetangga, teman sekantor, hingga rekan bisnis.

Jika demikian yang terjadi, maka kapankah kita akan merasa bahagia. Daripada kita dongkol karena bermusuhan, lebih baik kita berdamai dan menjalin persaudaraan sehingga kebahagiaan bisa digapai. Banyak keuntungan dari jalinan persaudaraan. Persaudaraan ini bukan hanya berdasarkan nasab atau secara biologis saja. Melainkan persaudaraan yang melintasi batas-batas bangsa dan negara.

Kuncikedua,jangan biarkan pikiran kita sibuk mempermasalahkan masalah. Gunakanlah pikiran kita untuk menyelesaikan masalah. Saat anak kita menangis, tidak perlu kita memukul atau memarahinya karena itu tidak akan membuat tangisannya berhenti, malah justru akan semakin keras. Jika kita memiliki dendam, jangan terus menggeluti perasaan itu, namun datangilah dan selesaikanlah dengan baik permasalahan yang telah terjadi.

KunciKetiga,adanya semangat demi kemaslahatan bersama. Jangan sampai kita mendapat kemenangan sendiri sedangkan orang lain menelan kekalahan. Jika kita mendapat kemenangan atau keuntungan, sepatutnya kita berbagi dengan orang lain. Tidak pantas kita bersenang-senang sendiri di atas penderitaan orang lain. Makin banyak orang yang merasa tersakiti, maka akan semakin besar juga kemungkinan orang lain menyakiti kita.

Jika kita disakiti seseorang, maka janganlah lihat orang itu sebagai pihak yang menyakiti kita. Tapi lihatlah dia sebagai sarana ujian dan ladang amal dari Allah Swt. Kalau kita melihatnya sebagai pihak yang menyakiti kita, maka tentu saja kita akan sakit hati dan dendam.

Sungguh kita tidak akan rugi diperlakukan apa saja oleh orang lain kalau kita bisa menyikapi perlakukan itu dengan benar. Penyikapan yang benar itu adalah sebagai berikut:

Pertama,evaluasi diri. Siapa tahu tanpa kita sadari, kita sudah mengundang kebencian orang lain.Kedua,perbaiki diri. Jawaban kita atas segala perlakuan yang kita dapatkan adalah akhlak yang baik. Kita dicemooh, dihina, dan diolok-olok oleh orang lain, maka biarkan saja. Tetaplah berbuat kebaikan. Pada akhirnya, orang akan melihat siapa yang difitnah dan siapa yang memfitnah.

Kalau kita menjadi lebih baik, Allah Swt akan memuliakan kita. Kalau Allah memuliakan kita, maka kita tidak akan menjadi hina karena hinaan orang lain. Balas keburukan orang lain dengan sikap terbaik. Ada orang pelit di sekitar kita, maka alangkah baiknya jika kita mengiriminya makanan atau buah-buahan. Jika ada orang berbicara jelek, maka kita bicara tentang segala sesuatu yang baik dan dengan cara yang baik serta benar. [Kh Abdullah Gymnastiar]