Pupuk Organik Produksi Gapoktan Taruna Mukti Kurangi Pencemaran Limbah Kotoran Sapi

Pupuk Organik Produksi Gapoktan Taruna Mukti Kurangi Pencemaran Limbah Kotoran Sapi
Foto: Dani R Nugraha



INILAH, Bandung - Pencemaran limbah kotoran sapi di sepanjang bantaran Sungai Ciwidey, Cisondari, dan Cibodas berkurang drastis. Adalah Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Taruna Mukti di Gambung Desa Cisondari Kecamatan Pasirjambu yang mengolah limbah kotoran sapi menjadi pupuk kompos berdaya serap tinggi dan mendapat mendapatkan penghargaan dari Kementerian Pertanian.

Ketua Gapotan Taruna Mukti Uus Permana mengatakan, selama ini limbah kotoran sapi yang dibuang sembarangan para peternak di bantaran dan aliran Sungai Ciwidey, Cisondari, dan Ciwidey kurang lebih 50 ton per hari. Dampaknya, pencemaran dan pendangkalan sungai termasuk di induk dari ketiga sungai tersebut yakni Sungai Citarum. Sehingga pihaknya berusaha mengurangi dampak pencemaran lingkungan sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan menggunakan potensi yang ada yakni limbah kotoran sapi.

"Kami bisa memproduksi pupuk kompos curah sebanyak kurang lebih 1.000 ton per bulan. Pupuk kompos kami ini diserap komunitas pegiat lingkungan dari Gerakan Nusantara Hijau. Alhamdulilah mereka siap menampung berapapun hasil produksi kami. Mereka siap membeli berapapun karena kegiatannya memang sudah nasional," kata Uus disela pengiriman perdana pupuk untuk Gerakan Nusantara Hijau di Gambung Desa Cisondari, Selasa (26/1/2021).


Dia menuturkan, keunggulan pupuk kompos organik produksi Gapoktan Taruna Mukti itu lebih cepat larut ketimbang dengan pupuk sejenis produksi pabrikan besar yang memiliki tekstur granule. Selain itu, efektivitas dari pupuk kompos curah ini dapat meningkatkan produktivitas hasil pertanian. Bahkan, pada saat uji coba pada tanaman padi bisa meningkatkan produktivitas hingga 15-30 persen.

"Pada tanaman padi, meskipun bulir padi sudang menguning batangnya masih tetap hijau. Sedangkan padi yang pakai pupuk kimia, batangnya sudah menguning baru bulir padinya ikut kuning. Dengan pupuk ini produktivitas meningkat makanya kami mendapatkan penghargaan dari Dirjen. Nah selain itu, kami juga sampai saat ini terus melakukan uji coba dan uji efektivitas dengan melakukan beberapa demplot pada pertanian organik," ujarnya. 

Dari sisi pemberdayaan ekonomi masyarakat, lanjut Uus, produksi pupuk kompos Gapoktan Taruna Mukti ini dapat menyerap tenaga kerja sekitar 248 orang. Para pekerja ini adalah warga sekitar.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Tisna Umaran mengatakan pihaknya bersama instansi samping yakni TNI/Polri memberikan dukungan usaha yang dilakukan Gapoktan Taruna Mukti. Sebab, pengolahan limbah kotoran sapi menjadi pupuk organik ini menjadi salah satu upaya penyelamatan lingkungan yang memang sudah tercemar. 

"Awalnya memang ini upaya untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi. Yakni menciptakan penghasilan dari sumber daya yang ada disekitar. Positif sekali karena memang pencemaran terbesar dari kotoran sapi, bahkan Citarum itu sudah lebih dulu tercemarnya yah oleh kotoran sapi itu," kata Tisna. 

Apalagi, kata Tisna, saat ini pemerintah telah melakukan pengurangan subdisi untuk pupuk an organik atau pupuk kimia pabrikan. Diharapkan, kehadiran pupuk kompos organik seperti ini bisa menjadi alternatif. Namun memang, untuk mengubah paradigma masyarakat agar mau beralih dari pupuk an organik ke organik ini harus dilakukan bertahap.

"Saya pikir kalau efektivitasnya sama ini sangat bagus. Selain kebutuhan pupuk petani terpenuhi, pemberdayaan ekonomi masyarakat pun bisa berjalan dengan memanfaatkan bahan baku yang ada di sekitarnya," ujarnya. (Dani R Nugraha)