DKP Jabar Masih Mencari Formula Untuk Ikut Andil Tingkatkan Potensi Ikan Hias

DKP Jabar Masih Mencari Formula Untuk Ikut Andil Tingkatkan Potensi Ikan Hias
Ilustrasi/Antara Foto

NILAH, Bandung- Selain menjadi salah satu cara ampuh melawan stres, memelihara ikan hias dinilai dapat meningkatkan perekonomian di masa Pandemi Covid-19 ini. Khususnya untuk masyarakat yang membudidayakannya.

Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Barat memilki rencana untuk memberikan pembinaan kepada pembudidaya ikan hias agar meraup hasil yang kian baik. 

Kepala DKP Jabar Hermansyah mengatakan, saat ini pihaknya memang tidak memiliki tupoksi di sektor ikan hias ini. 

"Tapi sebenarnya dulu kita punya yang di Ciherang (Cianjur) itu ada pembibitan sebenarnya. Budidaya ikan hias terutama koi, tapi sekarang tidak ada lagi," ujar Hermansyah, Kamis (28/1/2021). 

Kendati demikian, dia menilai, ikan hias  mempunyai prospek bagus mengingat kian banyaknya penghobi. Selain itu memiliki nilai ekonomi, sehingga marak juga masyarakat yang membudidayakan ikan hias, seperti koi dan ikan cupang. 

"Itu memiliki nilai ekonomi yang bilamana masyarkat ikut membudidayakan itu bisa menjadi penghasilan keluarga juga," katanya.

Mengingat besarnya potensi ikan hias untuk mendongkrak perekonomian masyarakat, Herman menyayangkan kondisi pihaknya yang saat ini tidak memiliki tupoksi untuk dapat  mengembangkan. Karena itu, dia mengaku akan mencari formula agar DKPP Jabar dapat ikut andil dalam meningkatkan prospek budidaya ikan hias ini di tengah masyarakat.

"Mungkin arahnya di pemeliharaan kita akan coba kembangkan lagi, akan kita coba masukan di dalam konservasi. Jadi menjadi satu bagian kami tempelkan, sehingga nanti bisa lagi kita untuk menjadikan ikan hias menjadi upaya kita untuk dikembangkan kembali," paparnya. 

Hermansyah menilai, selain memiliki nilai ekonomi, membudidayakan ikan hias juga cenderung tidak akan memberatkan masyarakat. Terutama jika disandingkan dengan memelihara ikan untuk dikonsumsi. 

Di mana memelihara ikan hias tidak memerlukan lahan yang terlalu luas, namun cukup dalam akuarium pun sudah dapat menghasilkan dan meningkatkan finansial masyarakat. 

"Iya kan budidayanya gampang, seperti ikan cupang mungkin di rumahan saja bisa. Jadi masih dimungkinkan jika dibandingkan di kondisi yang sulit ini dia mengembangkan harus punya kolam yang besar," jelasnya. 

Di sisi lain, saat ini pihaknya juga melalui bidang pengawasan getol melakukan monitoring terkait ikan yang dilarang. Khususnya ikan predator atau invansif (buas) juga spesies asing yang dewasa ini banyak diperjualbelikan dan dipelihara. 

Herman mengimbau agar masyarkat yang memelihara ikan jenis tersebut segera menyerahkan kepada stasiun karantina, baik itu di provinsi maupun kabupaten kota. 

"Jadi pengawasan tidak hanya di laut dan nelayan, kalau ada yang memelihara ikan terlarang itu bisa kita awasi," ucapnya.

Herman juga meminta masyarkat untuk melapor bilamana menemukan ada pihak yang memelihara atau menangkap ikan terlarang tersebut. Pihaknya akan terus mengedukasi, mengingat ikan jenis tersebut dapat mengancam ekosistem perairan. 

"Kalau ikan yang dipelihara masyarakat kita tidak tahu kalau tidak ada laporan dari masyarakat, jadi harus diedukasi juga mana yang dilarang dan tidak. Sehingga kalau ada yang mengetahui orang yang memelihara bisa dilaporkan kepada kami," pungkasnya. (riantonurdiansyah)