Sikap Kami: Kompresor

Sikap Kami: Kompresor



SALAH satu ilmu yang baik itu ilmu padi. Makin berisi, dia makin merunduk. Makin tinggi, dia jauh dari sifat sombong. Sebab, dia paham, kesombongan adalah jalan menuju kejatuhan.

Jatuh di atas keangkuhan adalah jatuh yang sesakit-sakitnya. Mungkin, itulah sebabnya, orang-orang pintar, salah satu di antara padi yang ranum itu, menghindar dari kesombongan.

Tapi, mungkin karena itu pepatah lama, yang memakainya kebanyakan juga orang-orang lama. Orang-orang terpelajar zaman sekarang, dengan gelar pengetahuan yang sangat tinggi pun, tak sedikit yang sudah melupakan ilmu padi.


Tengoklah, tak sedikit profesor-profesor kita yang bikin gaduh. Miris karena kegaduhan bukan soal pandangan ilmu keahliannya, melainkan pada kepentingan-kepentingannya.

Seorang profesor, misalnya, gaduh karena terlibat adu-mengadu ke kantor polisi. Padahal, yang disoal, bukan bidang keahliannya. Profesor lain malah sibuk menyerang orang lain, juga bukan soal ilmu pengetahuan, melainkan pandangan politiknya.

Apa karena profesor sudah kebanyakan sehingga kita jarang melihat para ahli bergelar serupa di masa lalu. Profesor yang mengabdikan dirinya sungguh-sungguh untuk kepentingan negara.

Kita, misalnya, melihat betapa bermanfaatnya banyak profesor kita di era Orde Baru untuk kemaslahatan negara. Prof Wijdojo Nitisatro, Prof Ali Wardana, Prof Emil Salim, Prof Soebroto, adalah ahli-ahli yang membangkitkan kembali ekonomi kita setelah terpuruk pada Orde Lama.

Mereka adalah profesor-profesor yang sudah selesai dengan urusan dirinya masing-masing. Karena itu, tak kita lihat ada kegaduhan-kegaduhan non-prinsipil yang lahir dari pandangan, pernyataan, sikap, dan perbuatannya.

Sekarang? Tentu, sangat banyak juga profesor-profesor yang berilmu padi seperti mereka. Yang sudah selesai urusan dengan dirinya. Yang konsentrasi dengan ilmunya untuk kemajuan.

Tapi, gaduh yang diciptakan sejumlah profesor lain, seperti mencederai para ahli. Ada yang bangga berlebihan menonjolkan keprofesorannya, sementara sikap dan tindak tanduknya tak melambangkan itu orang berilmu tinggi.

Mereka bukanlah padi yang bernas, yang jika kian bernas akan makin merunduk. Mereka adalah pagar yang makin padi. Padahal, jika mereka sadar, takkan mungkin menanam ilalang akan tumbuh padi.

Mengurut dada juga kita jika ada orang-orang yang menyindir orang-orang berilmu tinggi itu. Sampai pada suatu ketika ada yang memplesetkan jadi kompresor. 

Tak elok ada sarkasme seperti kompresor itu. Tapi, lebih pantas jika ilmu padi, makin berisi makin menunduk itu, kita terapkan dalam kehidupan kita. Siapapun kita, profesor sekalipun. (*)