Maaf Dilan, Lagi Banjir

Maaf Dilan, Lagi Banjir
MAAF Dilan, tak bisa datang ke Cihampelas Walk. Jalan tertutup, banjir terjadi di banyak titik. Mudah-mudahan nanti, 28 Februari, bisa datang ke gedung bioskop. Itupun kalau tidak banjir. Kalau banjir lagi? Ya ditunda lagi. Jika banjir tak surut-surut? Ya mungkin tak bisa menyaksikannya.
 
Dilan memang hebat. Dia mampu mebetot perhatian warga Bandung dan Jawa Barat. Tapi, sebagai produk budaya, dia bisa dinikmati kapan saja. Yang tak bisa ditunda-tunda, ya ikut menyampaikan duka untuk korban-korban banjir. Dari Kabupaten Bandung hingga Garut.
 
Jadi, yang harusnya penting, ya didulukan. Nasib para sahabat di Bandung dan Garut, yang keluar lokasi pun sulit karena rumah terkepung banjir, itu lebih penting. Bukan berarti Dilan tidak penting. Ada yang lebih penting dari itu. Maaf ya Dilan.
 
Biarlah, toh gedung bioskop di Ciwalk tetap penuh. Oleh penonton dan pejabat. Biarlah mereka yang bernoslatgia dengan masa remajanya di dekade 1990-an itu. Ada yang merasa Dilan penting, ada yang mereka berempati terhadap korban banjir di Bandung dan Garut jauh lebih penting. Itu soal rasa, soal empati saja. Pilihan-pilihan saja.
 
Ada yang merasa bertemu dengan bintang-bintang Dilan adalah sebuah kesempatan yang harus dimanfaatkan. Tapi, ada juga yang merasa lebih bermanfaat berbuat sesuatu untuk korban banjir. Sekali lagi, biarlah, itu pilihan-pilihan.
 
Banjir di Dayeuhkolot, Baleendah, Bojongsoang adalah realitas hidup. Juga banjir dan longsor di banyak titik di Garut. Dia bukan fantasi. Bukan fiktif. Dia adalah penderitaan yang dialami para korbannya.  Biarlah dia diurus oleh orang-orang yang berani menghadapi realitas, seberapapun pahitnya. Bukan yang berfantasi, berimajinasi, atau merasa benar sendiri.
 
Maaf Dilan, tak bisa datang ke Cihampelas Walk. Jalanan banjir mungkin masih bisa ditembus. Tapi mau dikemanakan nurani jika ber-haha-hihi di tengah penderitaan tetangga-tetangga karena banjir dan longsor di Bandung dan Garut. (*)
 

Loading...