Program P2L di Jabar Sudah Menyasar 1.347 Penerima Manfaat

Program P2L di Jabar Sudah Menyasar 1.347 Penerima Manfaat
istimewa



INILAH, Bandung - Di masa pandemi Covid-19 ini upaya penguatan imunitas menjadi hal mutlak yang harus dilakukan. Salah satu cara yang dapat ditempuh yaitu dengan memastikan asupan gizi yang beragam dan seimbang untuk masyarakat, serta mudah didapat melalui pemanfaatan lahan pekarangan.

Pemerintah telah mengupayakan hal tersebut sejak 2010 melalui program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) yang kemudian pada tahun 2019 menjadi Pekarangan Pangan Lestari (P2L) atau yang dikenal dengan urban farming untuk masyarakat perkotaan termasuk di kota/kabupaten Jawa Barat. 

Di Jabar sendiri, sudah terdapat 1.347 penerima manfaat dari program tersebut melalui anggaran pendapatan belanja negara (APBN), terhitung sejak tahun 2010  hingga 2020 lalu.


“Untuk tahun 2021 ini ditargetkan bisa bertambah sekitar 350 kelompok penerima manfaat. Namun target tersebut mungkin akan bertambah dengan adanya Kabupaten/Kota yang mereplikasi program tersebut melalui anggaran dari APBD dan mungkin akan berubah lagi mengingat masih mengalami refocusing anggaran,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat Jafar Ismail, Selasa (16/2/2021).

Jafar mengatakan, setiap kabupaten kota memiliki implementasi masing-masing dalam memberi nama program yang bertujuan meningkatkan asupan gizi keluarga, menjaga ketahanan pangan dan mendorong peningkatan ekonomi masyarakat ini.

“Kegiatan pemanfaatan pekarangan itu macam-macam bentuknya, istilahnya macam-macam seperti di Kota Bandung dengan program Buruan Sae, itu juga sebenarnya termasuk urban farming,” katanya.

Menurut Jafar, di masa pandemi mengharuskan masyarakat menghindari kegiatan ditempat keramaian. Sehingga aktivitas banyak dilakukan di rumah. Kendati demikian, bukan berarti menjadi tidak produktif.

Di sisi lain, Jafar menambahkan, masyarakat harus tetap meningkatkan imunitas untuk menyikapi masa pandemi Covid-19 ini dengan kegiatan atau aktifitas yang bermanfaat.  

”Untuk meningkatkan imunitas ada beberapa hal yang bisa dilakukan, salah satunya beraktifitas lingkungan, seperti becocok tanam,” ucapnya.

Selain itu, untuk meningkatkan imun juga membutuhkan asupan gizi yang paling mudah diperoleh oleh keluarga melalui pemanfaatan lahan pekarangan. Maka, pihaknya menyarankan lahan pekarangan ditanami dengan sayur-sayuran. 

“Sehingga dapat penuhi kecukupan gizi keluarga melalui lahan pekarangan mereka sendiri,” imbuh Jafar.

Selain mengupayakan pemenuhan gizi dan memastikan ketahanan pangan masyarakat, program P2L ini juga dapat membantu masyarakat untuk meningkatkan ekonomi. Terlebih apabila penerima manfaat program ini sudah mendapatkan hasil panen yang melimpah.

Bantuan dari pemerintah berupa uang yang akan ditransfer kepada kelompok yang terdiri dari 20-30 anggota sebagai peserta penerima manfaat. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan rumah bibit, pengelolaan demplot , untuk pertanaman dipekarangan anggota kelompok serta pemasaran dan pasca panen.

Sementara itu, Kepala Bidang Konsumsi dan Pengembangan Sumber Daya Manusia DKPP Jabar Indriantari mengatakan pada 2010-2018 program ini hanya dikhususkan untuk kelompok wanita tani. 

“Karena awalnya yang melakukan aktifitas bercocok tanam di rumah adalah ibu-ibu atau wanita tani, tapi sejak tahun 2019 sudah berkembang menjadi kelompok masyarakat, seperti DKM, Karang Taruna, atau kelompok masyarakat lainnya yang mereka bisa aktifitas di lahan rumah atau lahan sekitarnya,” katanya.

Indiantari menambahkan, alasan setiap kelompok penerima manfaat harus memiliki kebun bibit yaitu agar  usaha pertanian yang mereka lakukan dapat terjaga secara berkelanjutan. Sehingga mereka dapat secara kontinyu menanam sumber pangan, karena ketersediaan bibit terus terjaga.  

“Dari hasil usaha pertanaman nanti mereka bisa kembangkan lagi untuk memenuhi kebutuhan protein hewani misalnya dengan memelihara burung puyuh, ayam ataupun ikan sehingga masyarakat bisa memenuhi kebutuhan gizi keluarga secara mudah dan terjangkau,” pungkasnya. (Rianto Nurdiansyah)