Pemprov Jabar Targetkan Pemilahan Sampah Mencapai 90 Persen pada 2028

Pemprov Jabar Targetkan Pemilahan Sampah Mencapai 90 Persen pada 2028
Ilustrasi (reza zurifwan)



INILAH, Bandung - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat menargetkan jumlah sampai yang dapat dipilah mampu mencapai 90,20 persen pada 2028 nanti. Di mana volume sampah per hari diperkirakan antara 25 ribu sampai 30 ribu per hari.

Kepala Seksi Persampahan Dinas Perumahan dan Pemukiman Jawa Barat Dadang mengatakan, dengan mengejar target tersebut maka akan menanggulangi penumpukan sampah baik di TPS maupun TPA.

"Kami sekarang dituntut menyelesaikan persoalan ini makanya kita gandeng berbagai komunitas termasuk dari Greeny, agar secara nyata bisa ikut serta menyelesaikan masalah," ujar Dadang, Kamis (18/2/2021)


Dadang mengaku, sejauh ini terdapat tiga program yang dijalankan oleh pihaknya untuk menyikapi penumpukan sampah ke TPS atau TPA. Yang pertama yaitu program kawasan tuntas sampah, di mana sampah dari tempat tersebut habis dan tidak dibuang ke TPS. Artinya mulai dari sampah organik dan non-organik bisa diolah secara mandiri.

Kemudian ada bank sampah. Cara ini menggandeng pihak lain untuk menyediakan tempat pengumpulan sampah secara konvensional untuk didaur ulang.

Ketiga kerja sama dengan pihak lain seperti Greeny yang mengambil sampah non-organik untuk didaur ulang. Cara ini sudah mulai dilakukan di Disperkim, yakni pegawai membawa sampah daur ulang untuk kemudian dikirim atau diambil pihak Greeny.

"Harapannya program seperti ini bisa dikembangkan di daerah lain juga dengan fokus pemilahan. Kontribusi seperti ini sangat baik pada lingkungan," harap dia.

Dia mengaku, yang terjadi saat ini mayoritas sampah masih tidak dipilah. Baik sampah organik dan non-organik seperti plastik kerap disatukan dalam satu wadah ketika dibuang ke tong sampah. Padahal, sampah dari rumah tangga masih bisa dipilih untuk mengurangi penumpukan, yang juga menghasilkan uang.

Sampah organik misalnya bisa dipilih dan dijadikan kompos. Sedangkan non-organik seperti beling, plastik, atau kertas bisa dijual kembali. Pola pikir ini yang harus ditingkatkan lewat berbagai literasi termasuk dari komunitas perusahaan yang konsen dalam daur ulang sampah.

"Timbunan sampah yang tertangani saat ini hanya 30,31 persen, dan sisanya tidak tertangani. Maka dengan adanya banyak komunitas yang ikut serta memilah sampah ini sangat membantu," katanya.  (riantonurdiansyah)