Murka Allah Bagi Pengumbar Janji Penyebar Upeti

Murka Allah Bagi Pengumbar Janji Penyebar Upeti
Ilustrasi/Net



"MEMBENCINYA manusia kepadamu karena keterusteranganmu adalah jauh lebih baik dibandingkan dengan mencintainya manusia kepadamu karena kemunafikanmu." Demikian nasehat singkat para sesepuh jiwa kepada mereka yang menginginkan kelanggengan suatu hubungan.

Rupanya nasehat di atas tidak berlaku atau, lebih tepatnya, tidak diberlakukan dalam kompetisi kehidupan politik. Polesan pencitraan yang banyak tidak sesuai fakta terlalu kuat, baik dalam konteks personal pilihan kepala daerah atau pun juga dalam konteks kelembagaan partai politik.

Polesan pencitraan biasanya dengan mengungkap hanya sisi "positif" saja, menghapus dan menutupi secara total sisi "negatif" yang pasti menyertainya.


Dalam kajian filsafat seringkali dinyatakan bahwa tidak ada hal yang secara total positif tanpa negatif atau negatif tanpa positif. Karena itulah maka kita berkewajiban menimbang secara serius kemungkinan kemaslahatan dan kemadlaratan dari segala yang kita pilih dan lakukan. Keseriusan menimbang dengan melihat semua fakta dalam realita sebelum melakukan keberpihakan dan pilihan adalah tanda-tanda orang cerdas.

Dalam konteks pemilihan politik, banyak pihak atau lembaga yang berkompetisi berusaha membuat pemilih lupa dengan, lagi-lagi, mengumbar janji dan menyebar upeti. Sebagai pemilih, rakyat harus menolak lupa. Yang telah mengkhianati janji dan yang telah menuhankan upeti dengan mengatakan "uang adalah yang maha kuasa" harus ditolak karena pasti akan menuai murka dari Allah Yang Maha Kuasa.

Semoga menjadi renungan bersama menjelang pendaftaran calon kepala daerah di daerahnya masing-masing. Kalaulah tak ada yang seratus persen sempurna, pilihlah yang paling baik dari yang tidak sempurna itu sambil istikharah dan istisyarah. Salam damai, AIM@Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim Surabaya. [*}