Budi Budiman Divonis 1 Tahun Penjara

Budi Budiman Divonis 1 Tahun Penjara
Foto: Ahmad Sayuti



INILAH, Bandung - Wali Kota Tasikmalaya nonaktif Budi Budiman dijatuhi hukuman penjara selama satu tahun, denda Rp200 juta, subsider kurungan dua bulan. Vonis itu lebih rendah satu tahun dari tuntutan JPU KPK.  

Hal itu terungkap dalam sidang putusan kasus dugaan suap pengurusan Dana Insentif Daerah (DID) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang bersumber dari APBN TA 2017 dan 2018, di Pengadilan Tipikor Bandung, Jalan RE Martadinata, Rabu (24/2/2021). Sidang berlangsung di ruang utama dengan sistem video conf erence dan terdakwa tetap di Rutan Kebonwaru.

Dalam amar putusannya ketua majelis Deni Arsan terdakwa dinyatakan bersalah menyuap pejabat Kemenkeu sebagaimana dakwaan alternatif pertama pasal 5 ayat 1 hurup b Undang-undang tindak pidana korupsi. 


"Menjatuhkan hukuman penjara selama satu tahun, denda Rp200 juta, subsider kurungan selama dua bulan," katanya. 

Sementara hal yang memberatkan terdakwa tidak mendukung program pemerintah dalam memberantas tindak pidana korupsi, terdakwa aebagai penyelenggara pemerintahan tidak memberikan contoh yang baik. 

Untuk yang meringakan, terdakwa bersikap sopan, kooperatif, dan menjadi justice collaborator (JC) yang mengungkap modus operandi perbuatan tindak pidana korupsi dan menungkap pelaku lainnya. 

Atas putusan tersebut, Budi Budiman yang mengikuti persidangan secara virtual langsung menyatakan meneeima, begitu juga dengan kuasa hukum terdakwa. 

Dalam uraiannya  majelis menyebutkan jika terdakwa telah melakukan beberapa perbuatan yang ada hubungannya sedemikian rupa sehingga harus dipandang sebagai satu perbuatan berlanjut.

"Memberi sesuatu, yaitu memberi uang seluruhnya sebesar Rp1 miliar, kepada Pegawai Negeri atau penyelenggara negara," katanya. 

Yakni memberikan uang kepada Yaya Purnomo selaku Kepala Seksi Evaluasi Pengembangan Pendanaan Kawasan Perumahan dan Pemukiman, Sub Direktorat Pengembangan Pendanaan Perkotaan dan Kawasan, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan pada Kementerian Keuangan periode  2017-2018 dan Rifa Surya selaku Kepala Seksi Perencanaan Dana Alokasi Khusus Fisik Il, Subdirektorat Dana Alokasi Khusus Fisik II dan Kepala Seksi Perencanaan Dana Alokasi Khusus Non Fisik, Subdirektorat Dana Alokasi Khusus Non Fisik pada Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Kemenkeu periode 2016-2018.

Jaksa menyebutkan, pemberian itu dimaksudkan karena berhubungan dengan jabatannya, yakni agar saksi Yaya Purnomo dan Rifa Surya melakukan pengurusan DID TA pada  2017 dan DAK  2018 yang diajukan oleh Pemerintah Kota Tasikmalaya, yang bertentangan dengan kewajibannya sebagai ASN. 

Ia menjelaskan, perbuan suap itu berawal saat terdakwa mencari alternatif sumber pembiayaan bagi pemerintah daerah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah, dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Salah satunya dengan mendapatkan DID dan DAK dari pemerintah pusat. 

Dalam rangka memperoleh DID dan DAK tersebut, sekitar September 2016, bertempat di rumah Ketua PPP Muhammad Rohmahurmuzy terdakwa dikenalkan dengan saksi Yaya dan Puji Suhartono sebagai pihak yang dapat melakukan pengurusan DID dan Dana Perimbangan berupa DAK/DAU untuk Kota Tasikmalaya. 

"Selanjutnya Muchammad Rohmahurmuzy meminta agar terdakwa mengajukan permohonan DID TA 2017 untuk Kota Tasikmalaya, sekaligus membicarakan biaya pengurusannya melalui Yaya dan Puji," ujarnya.

Kemudian pada  13 September 2016, terdakwa memerintahkan Nana Sujana selaku Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Barang Daerah (BPKBD) Kota Tasikmalaya agar membuat surat permohonan bantuan keuangan melalui DID TA 2017 ke Kemenkeu sebesar Rp 100 miliar. 

Dana sebesar itu rinciannya untuk pengadaan alat kesehatan sebesar Rp50 miliar, peningkatan insfrastruktur perkotaan Rp50 miliar. Kemudian terdakwa pun menandatangani surat permohonan bantuan tersebut dan dikirim ke Kemenkeu untuk DID TA 2017. 

Setelah itu, Yaya Purnomo dan Rifa Surya melakukan pengurusan dengan cara membenkan informasi peluang DID, memberikan konsultasi dan melakukan penghitungan perkiraan alokasinya. Selanjutnya Rifa melakukan pemantauan perkembangan pengalokasian DID TA 2017 tersebut dalam sistem komputer pada Direktorat Jenderal Penmbangan Keuangan untuk selanjutnya diinformasikan oleh Yaya kepada terdakwa. 

"Akhirnya Kemenkeu pada November 2016 mengumumkan Kota Tasikmalaya memperoleh anggaran DID TA 2017 sebesar Rp44,6 miliar. Yaya dan Rifa kemudian menemui terdakwa di rumahnya dan menagih komitmen awal biaya kepengurusan DID," katanya. 

Namun saat itu terdakwa belum dapat memenuhi biaya pengurusan tersebut. Kemudian pada April 2017 terdakwa kembali diingatkan oleh Rohmahurmuzy agar membayar biaya pengurusan kepada Yaya Purnomo. 

Atas permntaan tersebut terdakwa berkomitmen akan segera memenuhi biaya pengurusan tersebut dan meminta waktu untuk dapat menyiapkannya. Akhirnya terdakwa membayar uang kepengurusan secara bertahap melalui Indra Rusdiana. 

Selain itu, pada 29 Mei 2017, terdakwa mengusulkan DAK fisik TA 2018 untuk Kota Tasikmalaya kepada Pemerintah Pusat dengan total Rp323 miliar yang akhirnya diperbaiki menjadi Rp375 miliar. Sama seperti DID, pengajuan DAK TA 2018 itu juga dibantu kepengurusannya oleh Yaya Purnomo. 

Perbuatan terdakwa memberikan uang senilai Rp1 miliar kepada Yaya dan Rifa untuk kepengurusan anggaran DID TA 2017 dan DAK fisik TA 2018, bertentangan dengan kewajiban keduanya sebagai pejabat negara atau ASN. (Ahmad Sayuti)