Agar Bercanda tak Kebablasan, Begini Aturannya dalam Islam

Agar Bercanda tak Kebablasan, Begini Aturannya dalam Islam
Ilustrasi/Net



ISLAM agama sempurna yang telah mengatur segala aspek kehidupan manusia. Tak ada yang luput, bahkan, dalam urusan-urusan kecil semisal bercanda.

Di bawah ini, dijelaskan adab-adab bercanda dalam islam yang tertuang dalam artikel Dr.Zain An-Najah, LC. MA dikutip dari mozaik.inilah.com:

Diriwayatkan dari Abu Umamah radhiyallahu anhu ia berkata, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:


"Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan meskipun bershifat gurau, Dan aku juga menjamin rumah di syurga yang paling tinggi bagi seseorang yang berakhlak baik." (HR. Abu Daud no 4167)

Pelajaran dari hadits

Pelajaran Pertama : Dibolehkan bergurau selama itu memenuhi beberapa syarat, diantaranya:

Syarat Pertama: Tidak mengandung kebohongan baik dalam perkataan maupun perbuatan sebagaimana di dalam hadits Hakim bin Hizam radhiyallahu anhu ia berkata, Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda:

"Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang lain tertawa. Celakalah ia, celakalah ia." (HR. Abu Daud, Baihaqi, Ahmad. Berkata Syuiab al-Arnauth: Sanadnya Hasan)

Syarat Kedua: Tidak mengandung sesuatu yang keji atau sesuatu yang kasar dan tidak senonoh, baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Syarat Ketiga: Hendaknya dilakukan sekedarnya dan seperlunya, serta tidak terus menerus. Berkata al-Mula Ali al-Qari di dalm Mirqah al-Mafatih Syarah Misykat al-Mashabih (14/153):

Berkata an-Nawawi: Ketahuilah bahwa bergurau yang dilarang adalah yang keterluan dan terus-menerus, karena hal itu akan menyebabkan tertawa dan mengeraskan hati, serta memalingkan dari mengingat Allah dan dari memikirkan masalah-masalah agama. Bahkan seringnya menyakitkan orang lain dan menimbulkan dendam, begitu juga bisa menjatuhkan kewibawaan dan kehormatan seseorang. Adapun jika hal-hal di atas tidak ada, maka bergurau adalah sesuatu yang dibolehkan, seperti yang kadang dilakukan oleh Rasulullah, demi kemaslahatan dan meyenangkan orang yang diajak bicara serta menambah keakraban. Dan ini semua merupakan sunnah yang dianjurkan.

Syarat Keempat: Hendaknya tidak memalingkan dari kewajiban dan mengingat Allah

Syarat Kelima : Hendaknya tidak mengandung sesuatu yang menyakiti atau menakuti orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah shallahu alaihi wasallam :

"Tidak halal bagi seorang muslim membuat kaget sesama saudaranya yang muslim." (HR. Abu Daud dan Ahmad. Hadits Shahih)

Syarat Keenam: Hendaknya tidak bercanda dalam hal-hal yang dilarang oleh agama. Diantaranya adalah bercanda dalam agama yang melecehkan Allah, Ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya, sebagaimana yang tersebut di dalam firman Allah :

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: "Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa." (QS. At Taubah : 65-66)

Pelajaran Kedua : Manfaat Bergurau.

Bergurau mempunyai banyak manfaat, diantaranya adalah:

- Supaya menambah keakraban di antara sesama.

- Menghilangkan rasa jenuh dan bosan.

- Sarana untuk bisa menghibur dan menarik seseorang untuk bisa diarahkan pada sesuatu yang baik.

- Melatih otak agar terus berfikir dan berkembang sebagaimana mestinya.

Memberikan kegembiraan kepada orang lain.

Pelajaran Ketiga : pada dasarnya berdusta dan berbohong adalah perbuatan dosa yang diharamkan di dalam Islam, sebagiamana firman Allah:Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung." (QS. An Nahl: 116)

Ini dikuatkan dengan hadits Ibnu Masud radhiyallahu anhu ia berkata, bahwa Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda:

"Jauhilah kebohongan, sebab kebohongan menggiring kepada keburukkan, dan keburukkan akan menggiring kepada neraka. Dan sungguh, jika seseorang berbohong dan terbiasa dalam kebohongan hingga di sisi Allah ia akan ditulis sebagai seorang pembohong." (HR. Bukhari dan Muslim)

Tetapi dalam beberapa hal, berdusta dibolehkan, diantaranya sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Ummu Kultsum bin Uqbah radhiyallahu anha bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallahu alaihi wasallam bersabda:

"Orang yang mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, orang yang berkata demi kebaikan, dan orang yang membangkitkan (mengingatkan) kebaikan bukanlah termasuk pendusta." (HR. Bukhari 2692 dan Muslim 2605)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Ummu Kultsum bin Uqbah radhiyallahu anha berkata:

Bahwa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tidaklah memberikan keringanan pada apa yang diucapkan oleh manusia bahwa itu berdusta kecuali dalam tiga perkara, yaitu, dalam perang, atau mendamaikan perselisihan di antara manusia, dan ucapan suami kepada istrinya, atau cuapan isri kepada suaminya." (HR. Ahmad).

Sumber : Buku "Banyak Jalan Menuju Surga" dengan perubahan judul. Hal. 139