Sikap Kami: Esemka yang Tersia-sia

Sikap Kami: Esemka yang Tersia-sia



SUDAHKAH Anda membeli mobil baru Senin (1/3)? Bagaimana, betulkah harganya sudah turun? Mestinya turun karena ada diskon Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) mobil baru.

Tapi, penurunan harga itu takkan didapatkan jika kita membeli mobil Esemka. Sebab, mobil buatan pabrikan di Solo Raya itu ternyata tak masuk dalam daftar mobil yang mendapatkan diskon PPnBM.

Tentu saja, keputusan pemerintah tak memberikan diskon PPnBM terhadap Esemka ini layak kita pertanyakan. Katakanlah Esemka bukan mobil nasional, tapi bukankah dia mobil yang antara lain dibuat di Tanah Air kita. Mobil yang harusnya menjadi kebanggaan kita.


Sudah sepatutnya pemerintah memberikan kemudahan-kemudahan yang bisa memicu industri otomotif anak negeri ini. Karena itu, tak masuknya Esemka dalam daftar 21 mobil yang mendapat insentif PPnBM itu tidaklah mencerminkan penghargaan terhadap industri otomotif nasional itu.

Betul, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian, menetapkan kriteria mobil yang mendapatkan insentif. Kriteria itu antara lain sedan dan segmen mobil berpenumpang maksimal 10 orang, bermesin (maksimal) 1.500 cc, berpenggerak gardan 4x2, dan mempunyai local purchase minimal 70%.

Hampir semuanya masuk dalam syarat-syarat yang dimiliki industri mobil berskala nasional itu. Jika memenuhi syarat, tentulah kewajiban pemerintah untuk ikut mendorong produksi mobil buatan anak negeri itu agar bisa lebih bersaing di pasar nasional, bahkan jika memungkinkan suatu ketika ikut berbicara di pasar regional atau internasional.

Tapi, rupanya pemerintah enggan memberi ruang untuk Esemka. Kita tak tahu apa alasannya. Yang jelas, insentif pajak itu hanya dinikmati enam pabrikan Jepang dan satu pabrikan China. Toyota, Daihatsu, Honda, Mitsubishi, Suzuki, dan Nissan dari Jepang, serta Wuling dari China.

Ini tentu menyedihkan. Padahal, dalam beberapa kesempatan, terutama saat meninjau pabrik Esemka, pemerintah menyuarakan kebanggaan luar biasa atas mobil produksi anak negeri itu. Kenapa ketika ada saat ikut mendorong Esemka menapak lebih luas di jalanan Nusantara, pemerintah seperti setengah hati.

Maka, tak boleh mengelak, jika muncul kesan seolah-olah pemerintah menyia-nyiakan Esemka. Justru ketika ada peluang mempopulerkan Esemka, pemerintah semestinya mendorong sebisa mungkin agar makin banyak anak negeri yang mencintai produk-produk lokal, termasuk produk otomotif.

Sayang sekali, pemerintah tak memanfaatkan kesempatan ini. Seolah-olah membiarkan Esemka “terus merangkak” dan membuat mobil produksi pabrikan nasional itu seperti tak terlihat di pasaran dan jalanan. (*)