Sabar itu Wajib, Rida itu Sunah, Apa Bedanya?

Sabar itu Wajib, Rida itu Sunah, Apa Bedanya?
Ilustrasi/Net



ALLAH Taala berfirman,

"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Az-Zumar: 10).

Al-Auzai rahimahullah mengatakan, "Pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa ditakar dan ditimbang. Mereka benar-benar akan mendapatkan ketinggian derajat." As-Sudi mengatakan, "Balasan orang yang bersabar adalah surga." (Tafsir Al-Quran Al-Azhim, 6:443)


Ada hadits yang muttafaqun alaih,

Dari Atha bin Abi Rabaah, ia berkata bahwa Ibnu Abbas berkata kepadanya, "Maukah kutunjukkan wanita yang termasuk penduduk surga?" Atha menjawab, "Iya mau." Ibnu Abbas berkata, "Wanita yang berkulit hitam ini, ia pernah mendatangi Nabi shallallahu alaihi wa sallam, lantas ia pun berkata, "Aku menderita penyakit ayan dan auratku sering terbuka karenanya. Berdoalah kepada Allah untukku."

Nabi shallallahu alaihi wa sallampun bersabda, "Jika mau bersabar, bagimu surga. Jika engkau mau, aku akan berdoa kepada Allah supaya menyembuhkanmu." Wanita itu pun berkata, "Aku memilih bersabar." Lalu ia berkata pula, "Auratku biasa tersingkap (kala aku terkena ayan). Berdoalah kepada Allah supaya auratku tidak terbuka." Nabi shallallahu alaihi wa sallampun berdoa kepada Allah untuk wanita tersebut. (HR. Bukhari, no. 5652 dan Muslim, no. 2576)

Hukum sabar itu wajib. Jika seseorang tidak bersabar, maka ia berdosa dan mendapatkan hukuman dari Allah. Adapun ridha adalah tingkatan yang lebih tinggi daripada sabar. Ridha ini adalah tingkatan yang dilakukan oleh as-sabiqin bi al-khairaat (orang yang bersegera dalam kebaikan). Hukum ridha adalah sunnah dan bukanlah wajib. Jika seorang muslim tidak sampai derajat ridha, maka tidaklah berdosa.

Apa perbedaan ridha dan sabar? Ridha itu tidak merasakan sakit sama sekali. Sedangkan sabar itu seseorang masih merasakan sakit namun ia berusaha menahan hati, lisan, dan anggota badan untuk tetap sabar dan tidak melalukan hal-hal yang menunjukkan murka. Keterangan seperti ini diterangkan oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid.