Emil dan Politik Jorok KLB

Emil dan Politik Jorok KLB



MESKI bukan politisi “sungguhan” –dalam arti tergabung di partai politik, langkah politik Ridwan Kamil terukur jelas. Maka, kala eks politisi Partai Demokrat menyerat namanya, tampaknya dia bergeming. Kalau dia sambar, salah satu kemungkinan terburuk: karier politiknya hancur.

Sejauh ini, dari yang kita lihat, Ridwan Kamil tidak berada, tapi juga tidak berjarak dengan partai politik. Dia, sejak pertama kali menjadi politisi, saat mencalonkan diri menjadi Wali Kota Bandung, berada di jalur itu. Di Bandung dia diusung Gerindra dan PKS, di (Pilkada) Jawa Barat didapuk Partai Nasdem, PPP, dan PKB.

Ada resistensi, tentu saja. Tak ada politik tanpa resistensi. Tapi, yang dialami Emil, tidak tinggi. Tidak berlarut-larut. Itu sebabnya, kadang-kadang dia disebut sebagian orang gubernur “cebong”, kadang kala gubernur “kampret”. Padahal, dia gubernur untuk seluruh warga Jawa Barat, termasuk “cebong” dan “kampret”.


Maka, kemudian tentu menjadi aneh, ketika namanya terseret-seret di Partai Demokrat. Lebih aneh lagi, terseret di tengah konflik yang tengah melanda partai itu. Sebagian orang yang hendak memaksakan kongres luar biasa (KLB) pada partai yang antara lain dibesut Susilo Bambang Yudhoyono itu, menyebut nama Emil ada di antara kandidat ketua umum.

Kita patut menduga, pernyataan itu sebagai asal klaim belaka. Dari sisi manapun, Emil tak masuk akal berada dalam pusaran konflik itu. Pertama, dia bukan orang yang tahan dalam konflik berkepanjangan, apalagi keras. Kedua, secara politis itu tak menguntungkan baginya. Kita yakin, Emil sangat memperhitungkan itu.

Emil saat ini memang mulai masuk percaturan Pilpres 2024. Namanya selalu menghiasi lembaga survei. Hanya dia dan Anies Baswedan, figur papan atas berbagai lembaga survei, yang bukan orang parpol.

Sulit? Tentu saja. Apalagi, mulai 2023 mendatang, dia bukan siapa-siapa lagi. Orang hanya mengenalnya sebagai mantan Gubernur Jawa Barat. Orang mungkin kembali pada pengetahuan awal, bahwa dia arsitek andal.

Apabila dia ingin maju dalam kontestasi Pilpres 2024 itu, bergabung dengan salah satu partai politik, akan memudahkan langkahnya. Tapi, sekali lagi, dia tentu akan berhitung. Rasanya, bergabung di tengah ingar-bingar Partai Demokrat, bukan langkah politik yang bagus. Tidak elegan. Jika itu terjadi, bukan tak mungkin justru itu akan jadi awal kehancuran karier politiknya.

Merujuk regulasi Partai Demokrat, KLB sendiri seperti menggantang asap. Tak satupun persyaratan terpenuhi. Hanya satu yang bisa menjadikannya: kekuatan amat super di luar partai itu. Jika itu terjadi, dengan bantuan kekuatan super, dan Emil berada dalam arena itu, maka itupun langkah politik yang jorok. Kita meyakini, Emil bukanlah politisi sejorok itu. (*)