Ridwan Kamil Lulus Ujian

Ridwan Kamil Lulus Ujian



POLITIK itu bukan melulu soal kekuasaan. Dia adalah juga soal adab. Soal ini, Ridwan Kamil, lulus ujian. Menjadi poin tambahan sebagai politisi yang beradab.

Begitu dia menyatakan tak tahu-menahu namanya terseret Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat dan menolak dicalonkan sebagai ketua umum, apresiasi mengalir terhadap sikapnya. Sikapnya yang memelihara adab berpolitik itu dipuji di tengah ujian yang berat.

Ujian yang berat? Betul.Di tengah mulai beriaknya kontestasi Pilpres 2024, Emil yang masuk dalam papan atas lembaga survei, butuh perahu. Sejatinya, dengan menjadi ketua umum Partai Demokrat, atau setidaknya masuk jajaran dewan pengurus pusat (DPP), akan memuluskan langkahnya.


Tapi, dia menolak memanfaatkannya. Dia malah menyatakan menghormati dan mendukung Agus Harimurti Yudhoyono sebagai Ketua Umum PD yang sah.

Begitulah politisi yang beradab. Dia tak memanffatkan kesempatan dalam kesempitan. Dia tak menghalalkan segala cara. Segalanya harus berjalan sealamiahnya politik. Sebab, kepemimpinan yang alamiah dan beradab itulah nantinya yang akan melahirkan pemimpin yang bisa diterima semua pihak.

Apa yang terjadi dengan KLB Partai Demokrat, patut kita duga, tak alamiah dan kurang beradab. Salah satunya menimpa Ridwan Kamil sendiri. Bayangkan, namanya disebut-sebut sebagai kandidat, tapi seorang pun tak pernah meminta izin kepadanya untuk mengapungkan namanya.

KLB itu juga dilakukan dengan cara yang tidak baik. Dari segi regulasi saja tidak memenuhi syarat. Melanggar AD/ART yang disepakati, terutama menyangkut izin Ketua Majelis Tinggi Partai. Belum lagi pencatutan nama-nama peserta. Uniknya, akhir pekan ini KLB direncanakan berlangsung, lokasinya pun masih sembunyi-sembunyi. Tak ada yang terang benderang. Apakah yang begitu layak dipercaya?

Maka, yang tergambar dari rencana KLB itu bukanlah soal kepemimpinan AHY. Kalau soal ini, bukankah hasil telisik sejumlah lembaga survei, elektabilitas PD kian menguat? Yang terlihat dan tercium adalah sikap ugal-ugalan politisi memburu kekuasaan, terutama menyongsong Pilpres 2024.

Kita patut bersyukur, sekaligus mengapresiasi, Ridwan Kamil jauh dari sikap seperti itu. Sikapnya menolak ditarik-tarik, dan bahkan memberikan dukungan kepada AHY, sebagai sesama politisi muda, wajib kita apresiasi.

Di tengah adab politik yang ugal-ugalan saat ini, sikap Emil seharusnya memberi pelajaran kepada kita semua, bahwa kekuasaan bukanlah segala-galanya. Kekuasaan menjadi bermakna ketika dia betul-betul diserahkan pemberi amanah. Bukan dipaksa-paksa. (*)