Kesadaran Bela Negara Menjadi Modal Dasar Sekaligus Kekuatan Bangsa

Kesadaran Bela Negara Menjadi Modal Dasar Sekaligus Kekuatan Bangsa
istimewa



INILAH, Bandung - Tim kluster Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dari dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Widyatama (UTama) menggelar kegiatan PkM secara daring dan mengundang narasumber dari Kementerian Pertahanan Republik Indonesia Kolonel Deden Koswara yang juga merupakan dosen tetap Program Studi Strategi Pertahanan Darat Universitas Ketahanan Republik Indonesia. 

Tim PkM ini terdiri dari, Ketua Sri Astuti Pratminingsih beserta anggotanya Neuneung Ratna Hayati, Achmad Drajat, Dwinto Martri, Rima Rahmayanti, Yunata dan Pipin Sukandi. Kegiatan ini dilakukan secara daring dan dihadiri oleh 100 peserta dari mahasiswa UTama dan luar UTama

Sri mengungkapkan, bela negara merupakan hak dan kewajiban setiap warga negara Republik Indonesia. Bela negara, biasanya selalu dikaitkan dengan militerisme, seolah-olah kewajiban dan tanggung jawab untuk membela negara hanya terletak pada Tentara Nasional Indonesia (TNI). Padahal berdasarkan Pasal 30 UUD 1945, bela negara adalah upaya setiap warga negara untuk mempertahankan Republik Indonesia terhadap ancaman baik dari luar maupun dalam negeri.

"Kesadaran bela negara merupakan satu hal yang esensial dan harus dimiliki oleh setiap warga negara Indonesia (WNI), sebagai wujud penunaian hak dan kewajibannya dalam upaya bela negara. Kesadaran bela negara menjadi modal dasar sekaligus kekuatan bangsa, dalam rangka menjaga keutuhan, kedaulatan serta kelangsungan hidup bangsa dan negara Indonesia," papar Sri, Sabtu (6/3/2021).

Kata Sri, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 mengatur mengenai Upaya Bela Negara yaitu ketentuan Pasal 27 Ayat (3), setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara, dan Pasal 30 Ayat (1), tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. 

Upaya bela negara harus dilakukan dalam kerangka pembinaan kesadaran bela negara sebagai sebuah upaya untuk mewujudkan WNI yang memahami dan menghayati serta yakin untuk menunaikan hak dan kewajibannya.

"Bangsa Indonesia ingin pula memiliki peradaban yang unggul dan mulia. Peradaban demikian dapat dicapai apabila masyarakat dan bangsa kita juga merupakan masyarakat dan bangsa yang baik (good society and nation), damai, adil dan sejahtera, sebagaimana yang telah diwasiatkan oleh para pendiri bangsa (founding fathers) dalam Pembukaan UUD 1945," papar Sri.

Di sisi lain lanjut Sri, bahwa UUD 1945 memberikan landasan serta arah dalam pengembangan sistem dan penyelenggaraan pertahanan negara. Substansi pertahanan negara yang terdapat dalam UUD 1945 diantaranya adalah pandangan bangsa Indonesia dalam melihat diri dan lingkungannya, tujuan negara, sistem pertahanan negara, serta keterlibatan warga negara. 

"Hal ini merefleksikan sikap bangsa Indonesia yang menentang segala bentuk penjajahan, yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan kesejahteraan. [dikutip dari sumbarprov.go.id]," ucap Sri.

Sebagai catatan, kegiatan bela negara ini merupakan kegiatan lanjutan yang telah dilaksanakan oleh Biro Kemahasiswaan UTama pada Desember 2020 yaitu latihan kepemimpinan manajemen mahasiswa selama satu minggu di Depo Pendidikan Bela Negara Rindam III Siliwangi. 

Latihan Kepemimpinan Manajamen Mahasiswa diikuti oleh para ketua Lembaga Keorganisasian Organisasi Kemahasiswaan (LKOK) di lingkungan Universitas Widyatama. Kegiatan ini diisi oleh Wakil Komandan Rindam III Siliwangi, Badan Narkotika Nasional, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Komisi Pemberantasan Korupsi dan berbagai narasumber lain mengenai bela negara.

Selain itu, Kolonel Deden belanegara itu adalah tekad, sikap, tindakan terukur warga negara Indonesia menyeluruh terpadu yang dilandasi dengan sadar berbangsa dan bernegara dengan kayakinan akan kesaktian Pancasila serta rela berkorban untuk keutuhan wilayah NKRI. 

"Menurut saya Bangsa Indonesia berhak dan wajib mempertahankan kemerdekaan, kedaulatan dan keselamatan bangsa dari ancaman," ujar Kolonel Deden. (Okky Adiana)