Beda Jalan Duo Sopacua dalam Kisruh Dualisme Partai Demokrat

Beda Jalan Duo Sopacua dalam Kisruh Dualisme Partai Demokrat
Foto: Rizki Mauludi



INILAH, Bogor - Max Sopacua mendukung Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat yang menunjuk ketua umum baru yakni Moeldoko. Ternyata, sang Ferro Sopacua memilih jalan lain. Dia setia di barisan Demokrat pimpinan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Ferro dengan tegas tidak mengakui KLB yang dihadiri ayahnya tersebut. Hingga hal tersebut disampaikan melalui akun Twitternya @ferroxv.

"Menyikapi dinamika @PDemokrat saya Ferro Sopacua menyampaikan bahwa saya setia pada konstitusi partai dan tetap loyal pada AHY," tulisnya yang juga di share dalam akun Instagram @ferrosopacua.


Mengenai perbedaan pandangan dengan ayahnya sendiri, Ferro menganggap, KLB salah satu mekanisme yang dilegalkan oleh AD/ART jika syarat-syaratnya terpenuhi.

"Sebagai kader, ketika memang semua faktor KLB terpenuhi maka saya akan mengikuti hasil dari KLB. Tetapi ketika faktor-faktor yang melegalkan KLB itu tidak terpenuhi, maka tidak ada alasan buat saya sebagai kader untuk tidak patuh kepada institusi partai saat ini," ungkap Ferro di taman ekspresi, Kecamatan Bogor Tengah pada Sabtu (6/3/21) sore.

Kembali Ferro menegaskan, KLB tersebut ilegal dan tidak memiliki landasan hukum. Hingga saat ini, menurutnya, Partai Demokrat masih diketuai oleh AHY.

"Buat saya bagaimanapun Demokrat adalah Demokrat, Demokrat cuma satu, persoalan image ini ada dua atau berapapun ya negara akan menentukan mana yang memiliki legal standing paling kuat. Bagi saya legal standing yang terkuat saat ini ada di sosok AHY sebagai ketua umum bukan di orang lain," tegasnya.

Atas sikap Max, Ferro mengaku tidak pernah membicarakan soal KLB dengan sang ayah. Meski demikian, dia mengatakan perbedaan pandangan antara dirinya dengan sang ayah merupakan hal yang biasa terjadi.

"Yang pasti kalau saya sama ayah saya, kalau beda itu sudah bukan yang pertama, itu hal biasa di antara kami berdua kalau perbedaan pandangan," tuturnya.

Terkait Max yang mengikuti KLB di Deli Serdang, menurutnya adalah hak politik dari ayahnya itu sebagai orang yang merasa peduli dengan Demokrat.

"Tak ada sesuatu yang menurut saya, terlalu ditarik ke ranah personal," terangnya.

Ferro mendesak, para pengurus DPP yang diketuai AHY segera berkomunikasi dengan tokoh yang terlibat gerakan KLB ilegal tersebut.

"Kalau saya sebagai orang kader di daerah yang tidak bisa masuk terlalu banyak ke wilayah politik di pusat, ingin mengimbau kepada teman-teman di DPP, agar dicari tahu kenapa tokoh-tokoh senior ini sampai harus mengkritisi internal partai sampai sekeras ini gitu. Harus ada alasannya dan menurut saya DPP harus bisa meng-clearkan itu," bebernya.

Ferro menilai, gerakan yang berujung KLB ilegal itu hanya bisa dipahami oleh peserta yang ikut dalam KLB. Baginya, ini terkait dengan idealisme masing-masing.

"Idealisme yang saya ambil adalah ketika memang perangkat KLB-nya tidak memenuhi persyaratan ya tidak ada alasan buat saya untuk ikut mengamini hasil KLB itu," pungkasnya.