Perangi Tengkulak Manggis, Ini Langkah Pemkab Bogor

Perangi Tengkulak Manggis, Ini Langkah Pemkab Bogor
Pemkab Bogor terus berupaya 'memerangi' tengkulak.
INILAH, Bogor- Usai melakukan peluncuran ekspor manggis ke RRC, Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan terus berupaya 'memerangi' tengkulak. Bagaimana?
 
Ternyata  salah satunya mengubah tengkulak tersebut menjadi eksportir seperti halnya Direktur Utama PT Mahkota Manggis Sehati Ishak.
 
"Untuk kebun manggis di daerah Cibungbulang dan Leuwiliang saja ada lima orang tengkulak, kami pun mensiasatinya dengan melakukan tindakan persuasif seperti mengubah mereka menjadi eksportir dan memberikan pelatihan kepada petani agar mereka sadar kerugian mereka apabila menjual buah manggisnya kepada para tengkulak," ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Kabupaten Bogor Siti Nuriyanti kepada wartawan, Kamis (28/2).
 
Dia menjelaskan  sulitnya 'menghilangkan' tengkulak karena tengkulak memberikan uang muka kepada petani buah manggis, ketika pohon buah manggis mengeluarkan bunga.
 
"Pintarnya tengkulak mereka membeli buah manggis ketika pohonnya baru berbunga hingga petani buah manggis merasa terikat, kami sudah menjelaskan kepada para petani keuntungan mereka jika langsung menjual buah manggisnya ke perusahaan eksportir karena kalau secara hitung-hitungan kalau mereka menjual hasil perkebunannya ke tengkulak itu namanya kerja bakti karena keuntungan bersih dalam satu musim (6 bulan) cuma 4 juta atau Rp 700 ribuan perbulan,"  jelasnya.
 
Agar kualitas buah manggis meningkat hingga layak ekspor, Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan pun melakukan standarisasi budidaya buah manggis, registrasi kebun manggis, pengendalian hama atau semut dan penangganan pasca panen.
 
"Silahkan petani jika ingin mendapatkan pelatihan budidaya, pengendalian hama, registrasi kebun dan penanganan pasca panen buah manggis bisa menghubungi kami, gratis tidak dipungut biaya," tambah Nuriyanti.
 
Pendapat Nuriyanti tersebut diaminkan Ijal petani buah manggis asal Kampung Ceungal, Desa Karacak, Leuwiliang bahwa para petani manggis selama ini tergantung kepada tengkulak dalam menjual buahnya.
 
"Petani dulu menjual rata buah manggisnya Rp 2.500 perkilogrammya, saat ini petani bisa menjual buah manggis grade A seharga Rp 14-17 ribu perkilogram hingga keuntungan petani jauh meningkat, kami harap pemerintah bisa memutus rantai tengkulak karena mereka kerap membeli buah kami saat pohon buah manggid baru berbunga," kata Ijal. 
 
Dia melanjutkan selama ini jika harga jual buah manggis rata-rata Rp 2.500 perkilogram hingga  para petani terbilang tidak untung karena besarnya biaya panen.
 
"Dulu yang paling untung tengkulak karena menjual ke pihak lain dengan harga jauh lebih tinggi, sementara petani buah manggis hanya dapat Rp 700 ribu perbulan karena kita harus bayar kuli panen Rp 75 ribu, sewa motor roda tiga sebesar Rp 80 ribu perharinya dan itu belum untuk membeli makan, kopi dan rokok pegawai," lanjutnya.