Hadits-hadits Lemah dan Palsu tentang Syaban

Hadits-hadits Lemah dan Palsu tentang Syaban
Ilustrasi/Net



Bulan Syaban adalah bulan ke-8 dari penanggalan hijriyah dan terletak sebelum bulan Ramadhan. Dalam beberapa hadits dijelaskan tentang keutamaan bulan ini.

Namun, sangat disayangkan banyak hadits lemah dan palsu yang tersebar di kalangan masyarakat. Di antara hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut:

1. Hadits yang menyebutkan sebuah doa, "Allahumma Barik lana fi rajaba wa Syabana wa balilghna Ramadhan" artinya "Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaban dan sampaikanlah umur kami ke bulan Ramadhan."


Hadits ini lemah, lihat Al-Adzkar karya Imam An-Nawawi; Mizan Al-Itidal karya Adz-Zahabi; Majma Az-Zawaid karya Al-Haitsami; Dhaif Al-Jami karya Syaikh Al-Albani, hadits 4395.

Cacat dalam hadits ini ada pada perawi yang bernama Zaidah bin Abi Ar-Ruqad. Berikut pendapat ulama berkenaan dengan perawi ini:

Abu Hatim mengatakan, "Perawi ini meriwayatkan dari Ziyad An-Numairi beberapa hadits marfu namun statusnya hadits munkar. Kami tidak mengetahui bahwa hadits yang diriwayatkannya ini berasal dari dirinya sendiri atau pun dari Ziyad."

Al-Bukhari menilai, "Ia termasuk kategori perawi yang memberitakan hadits munkar."

Abu Dawud menuturkan, "Saya tidak mengetahui hadits-hadits yang pernah diriwayatkannya."

An-Nasai menjelaskan, "Saya tidak mengetahui identitasnya."

Adz-Dzahabi dalam kitab Diwan Adh-dhuafa mengungkapkan, "Hadits yang diriwayatkannya tidak bisa dijadikan hujjah atau dalil."

Ibnu Hajar menuturkan, "Ia termasuk kategori perawi yang meriwayatkan hadits munkar."

2. Hadits yang berbunyi, "Keutamaan Bulan Rajab di atas semua bulan bagaikan keutamaan Al-Quran di atas semua perkataan, keutamaan bulan Syaban di atas semua bulan bagaikan keutamaanku di atas semua Nabi, dan keutamaan bulan Ramadhan di atas semua bulan bagaikan keutamaan Allah di atas semua hamba."

Ibnu Hajar mengatakan bahwa hadits ini maudhu (palsu) sebagaimana disebutkan dalam kitabnya. Lihat juga dalam Kasyf Al-Khafa karya Imam Ajluni, Al-Mashnu Fi Marifah Al-Hadits Al-Maudhu karya Ali bin Sultan Al-Qari.

3. Hadits yang berbunyi, "Rajab adalah bulan Allah, Syaban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku." Riwayat lain menyebutkan, "Syaban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan Allah, Syaban adalah bulan pembersihan diri, dan Ramadhan adalah bulan penghapusan dosa."

Status hadits ini dhaif (lemah) bahkan ada yang menilainya maudhu (palsu). Lihat Kasyf Al-Khafa karya Imam Ajluni, Silsilah Ahadits Adh-Dhaifah karya Syaikh Al-Albani, Al-Fawaid Al-Majmuah karya Asy Syaukani.

4. Hadits tentang pengkhususan siang di pertengahan bulan Syaban dan shalat pada malam harinya, "Apabila datang malam pertengahan bulan Syaban maka dirikanlah malamnya dengan shalat dan puasalah pada siang harinya."

Status hadits ini maudhu (palsu). Lihat Al-Ilal Al-Mutanahiyah jilid 2 hal. 562 karya Ibnul Jauzi, terbitan Dar Kutub Al-Ilmiyah tahun 1403 H; Mishbah Az-Zujajah jilid 2 hal. 10 karya Al-Kinani, terbitan Darul Arabiyah tahun 1403 H; Al-Fawa`id Al-Majmuah hal. 51 karya Asy-Syaukani, Tuhfah Al-Ahwadzi jilid 3 hal 366 karya Al-Mubarakfuri, terbitan Darul Kutub Al Ilmiyah; Silsilah Al-Ahadits Adh-Dhaifah karya Al-Albani, hadits no. 2132.

5. Hadits yang berbunyi, "Ada lima malam di mana doa tidak ditolak padanya: malam pertama bulan rajab, malam pertengahan bulan Syaban, malam jumat, malam idul fitri, dan malam idul adha."

Hadits ini maudhu (palsu). Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dhaifah karya Al-Albani, hadits no. 1452.

6. Hadits yang menyebutkan, "Wahai Ali, barang siapa yang shalat seratus rakaat pada malam pertengahan bulan Syaban dengan membaca surat Qul Huwallahu Ahad (surat Al-Ikhlash) seribu kali, maka Allah akan mengabulkan permintaannya pada malam itu."

Hadits ini maudhu (palsu). Lihat Al-Manar Al-Munif karya Abu Abdillah Muhammad Al-Hanbali, terbitan Darul Mathbuat Al-Islamiyah tahun 1403 H; Kasyf Al-Khafa jilid 2 hal. 566 karya Imam Ajluni, terbitan Ar-Risalah tahun 1405 H, Al-Fawa`id Al-Majmuah hal. 50 karya Asy-Syaukani; Naqd Al-Manqul jilid 1 hal. 85, karya Zari terbitan Darul Qadiri 1411 H.

7. Hadits yang berbunyi, "Barangsiapa yang membaca Qul Huwallahu Ahad (surat Al-Ikhlash) sebanyak seribu kali pada malam pertengahan bulan Syaban, maka Allah akan mengutus kepadanya seratus ribu malaikat yang memberi kabar gembira baginya."

Hadits ini maudhu (palsu). Lihat Lisan Al-Mizan jilid 5 hal. 271 karya Ibnu Hajar, terbitan Yayasan Al-Alami, terbitan tahun 1405 H; Al-Manar Al-Munif karya Abu Abdillah Muhammad Al-Hanbali, terbitan Darul Mathbuat Al-Islamiyah tahun 1403 H; Naqd Al-Manqul jilid 1 hal. 85 karya Zari, terbitan Darul Qadiri tahun 1411 H.

8. Hadits yang menyebutkan, "Barangsiapa yang menghidupkan dua malam hari raya dan malam pertengahan bulan Syaban dengan beribadah kepada Allah, maka hatinya tidak akan mati pada saat hati manusia sudah mati."

Hadits ini maudhu (palsu). Lihat Mizan Al-Itidal karya Adz-Dzhabi; Al-Ishabah karya Ibnu Hajar; dan Al-Ilal Al-Mutanahiyah karya Ibnul Jauzi.

Sumber Fimadani