Kapan Sesungguhnya Batas Waktu Makan Sahur?

Kapan Sesungguhnya Batas Waktu Makan Sahur?
Ilustrasi/Net



BATAS makan sahur di Indonesia, umumnya, adalah beberapa menit sebelum azan Subuh. Namun, kapan sesungguhnya batas makan sahur? Allah subhanahu wataala berfirman,

"Makan dan minumlah kalian sampai jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu waktu fajar." (QS Al-Baqarah: 187)

Al-Imam Al-Bukhari membawakan bab khusus untuk ayat ini dalam rangka menerangkan batas akhir dibolehkannya makan sahur dan dimulainya ash-shaum. Kemudian beliau menyebutkan hadits Adi bin Hatim radhiallahu anhu, beliau berkata:


"Ketika turunnya ayat, saya mencari tali hitam dan tali putih, saya letakkan di bawah bantal, kemudian saya mengamatinya di malam hari dan tidak nampak. Keesokan harinya saya menghadap Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam dan saya ceritakan kepadanya, kemudian beliau berkata : Yang dimaksud dengannya adalah gelapnya malam dan terangnya siang." (HR Bukhari no. 1917)

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menafsirkan maksud benang putih dan benang hitam dengan kegelapan malam dan cahaya siang, tidak seperti yang disangka oleh Adi bin Hatim dan beberapa shahabat lainya.

Hal ini terjadi karena nuzul (turunnya) ayat tidak bersamaan melainkan turun sesudahnya. Hal ini sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim dari shahabat Sahl bin Sad radhiallahu anhu:

"Ketika turun ayat ini dan belum turun potongan ayat selanjutnya, dahulu para shahabat jika ingin bershaum maka salah seorang diantara mereka mengikatkan benang putih dan benang hitam di kakinya dan melanjutkan makan sampai jelas perbedaan antara keduanya, kemudian Allah subhanu wataala menurunkan kelanjutan ayatnya sehingga mereka faham bahwa yang dimaksud dengannya adalah cahaya siang dan kegelapan malam." (HR Bukhari no. 1917 & Muslim no. 35-1901)

Atas dasar ini jelaslah permulaan waktu shaum, yaitu dimulai sejak munculnya fajar yang kedua atau fajar shadiq. Karena fajar itu ada dua macam:

1. Fajar kadzib , yaitu fajar yang cahayanya naik (vertikal) seperti ekor serigala. Dengan fajar ini belum masuk waktu shalat Subuh, dan masih diperbolehkan makan dan minum. Sebagaimana diterangkan dalam hadits Jabir bin Abdillah dan Ibnu Abbas radhiallahu anhum bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam berkata :

"Fajar ada dua macam (pertama), fajar yang bentuknya seperti ekor serigala maka belum dibolehkan dengannya shalat (subuh) dan masih dibolehkan makan. Dan (kedua) fajar yang membentang di ufuk timur adalah fajar yang dibolehkan di dalamnya shalat (subuh) dan diharamkan makan (sahur)." (HR. Al-Hakim)

2. Fajar shadiq , yaitu fajar yang cahayanya memanjang (mendatar). Sebagaimana terdapat dalam hadits Samuroh bin Jundub dan selainnya yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim secara marfu,

"Janganlah adzannya Bilal mencegah kalian dari sahur dan tidak pula cahaya putih ini sampai mendatar (horisontal). Dalam riwayat yang lain: yaitu cahaya yang mendatar bukan yang menjulang ke atas ." (HR Muslim no. 1093)

Oleh karena itu seharusnya bagi kaum muslimin untuk menghidupkan sunah Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berupa mengangkat dua orang muadzin, dan adzan subuh dua kali, untuk membantu ketika hendak melakukan ibadah ash-shaum dan shalat serta yang berkaitan dengan keduanya.

Demikianlah sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam sebagaimana terdapat dalam hadits Ibnu Umar radhiAllahu anhuma diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim, beliau mengatakan:

"Saya mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam berkata : Sesungguhnya Bilal mengumandangkan adzan di malam hari, maka makan dan minumlah sampai mendengar adzannya Ibnu Ummi Maktum." (HR Muslim 37-1092)

Al-Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari jalur periwayatan Aisyah radhiallahu anha dengan lafazh:

"Makan dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan karena dia tidak mengumandangkannya kecuali jika telah terbit fajar." (HR Bukhari Kitabush Shaum bab 17 hadits no. 1918, 1919)

Demikian penjelasan tentang batas waktu makan sahur. Semoga bermanfaat dan menambah khazanah keilmuan kita. Wallahu alam. []