Setelah Puluhan Tahun, 'Gunung Sampah' Diangkat dari Sungai Ciliwung

Setelah Puluhan Tahun, 'Gunung Sampah' Diangkat dari Sungai Ciliwung
Satgas Ciliwung mengangkat gunungan sampah di Sungai Ciliwung, Jumat (1/3/2019)
INILAH, Bogor – Memulai program revitalisasi Sungai Ciliwung, gunungan sampah dan rumah semi permanen di bawah jembatan Bale Binarum, Kecamatan Bogor Timur akhirnya diangkat tim gabungan dari Satgas Ciliwung, Jumat (1/3/2019). 
 
Gunungan sampah itu menumpuk selama puluhan tahun. Camat Bogor Timur, Adi Novan mengatakan, gunungan sampah di bawah jembatan kondisinya cukup parah karena sudah bertumpuk puluhan tahun. Pengangkutannya pun membutuhkan waktu berhari-hari jika semua sampah itu diangkat.
 
“Melihat kondisinya ini bisa berhari-hari. Setelah hari ini, pada Rabu, Kamis, Jumat depan kami akan intens kerjakan bersama sama pembersihan. Mudah-mudahan dalam waktu yang tidak terlalu lama bisa selesai,” tutur Adi.
 
Adi melanjutkan, sampah yang bertumpuk itu, bukanlah sampah dari pemukiman warga karena berada di pinggir jalan. Menurut informasi warga, setiap malam selalu ada 
kendaraan yang melempar atau membuang sampah ke bawah jembatan.
 
“Padahal setiap pemukiman warga sudah ada pengelolaan sampahnya. Kalau yang di sini sengaja dibuang orang sambil lewat. Jadi bukan karena kekurangan bak pembuangan sampah. Ke depan, untuk menjaga, saya mengusulkan dibuat pagar tinggi supaya tidak ada yang lempar sampah lagi ke sungai,” tambahnya.
 
Selain lokasi bawah jembatan Bale Binarum, Adi membeberkan, terdapat titik lain yang ada tumpukan sampah di aliran sungai Ciliwung, yaitu di wilayah Tajur ada 17 titik. 
Walaupun tidak seberat di Binarum, tapi 17 titik itu banyak dan menyebar.
 
“Karena itu  kami mulai untuk menaturalisasi Ciliwung. Kami harapkan kondisi bisa normal kembali dan tidak ada lagi tumpukan sampah. Kalau perlu sekalian lakukan penghijauan di pinggirannya,” tegasnya.
 
Adi juga mengatakan pihaknya mengertibkan rumah semi permanen di bawah jembatan Bale Binarum. Data yang didapat ada lima kepala keluarga (KK) dengan 12 jiwa yang tinggal di bawah jembatan itu selama puluhan tahun.
 
“Mereka sudah puluhan tahun tinggal di situ. Dari mereka belum punya anak sampai punya cucu. Setelah didata mereka bukan warga Bogor Timur. Ada beberapa warga Sukabumi dan tidak punya KTP Bogor,” terangnya.
 
Masih kata Adi, sebelum penertiban, pihaknya telah memberikan penjelasan terkait kondisi dan program pemerintah, sehingga tidak ada penolakan dari mereka. Terbukti penghuni sudah mengosongkan bangunannya jadi tim satgas tinggal membongkar saja. 
 
“Kami arahkan mereka pulang ke kampungnya masing-masing. Lokasi ini sudah menjadi target naturalisasi Sungai Ciliwung. Ini kaitannya dengan penempatan sarana umum. Karena itu, kami larang ada bangunan liar di bawah jembatan,” pungkasnya.