Cinta Khalifah yang Selalu Menjadikan Hati Resah

Cinta Khalifah yang Selalu Menjadikan Hati Resah
Ilustrasi/Net



KISAH cinta tak pernah tuntas diperbincangkan. Tua muda tetap setia menyimak dan memperhatikan. Namun ada kisah cinta yang saya senang sekali berbagi dengan para pembaca, kisah cinta khalifah yang bersahabat dengan Abu Nawas yang lucu itu.

Dalam kitab Mu'jamul Buldan, Yaqut al-Hamawi bercerita tentang musibah yang selalu menimpa Khalifah Harun Ar-Rasyid, yaitu bahwa orang yang dicintainya selalu saja cepat mati. Musibah ini menjadi perbincangan publik setelah kematian seorang wanita bernama Haylanah.

Kematian Haylanah menanamkan kesedihan mendalam di hati sang khalifah. Beliau sampai tak sudi makan dan tak hendak minum saking sedihnya. Ada sahabatnya yang berani bertanya kepada beliau mengapa begitu bersedih sementara ada banyak wanita lain dan bahkan semua wanita adalah milik beliau.


Beliau menjawab: "Celaka engkau, yang sangat aku sedihkan adalah bahwa setiap aku mencintai seseorang, maka seseorang itu pasti cepat mati." Temannya itu membalas kata sang khalifah dengan berkata: "Tak mungkin begitulah wahai Amirul Mukminin, pandangan tuan adalah salah. Hayo saya buktikan titik salah, cintai saya, apakah saya akan segera mati?"

Tantangan itu dijawab oleh sang khalifah: "Cinta itu tak bisa dipaksa. Cinta itu bukan pilihan. Cinta itu hadir dengan sendirinya." Temannya itu tetap memaksa: "Katakan sajalah kepadaku 'Aku sungguh cinta padamu' lalu kita lihat bagaimana. Khalifah marah mengusirnya sambil berkata: "Pergilah, aku sungguh cinta kepadamu." Apakah yang terjadi kemudian? Selang beberapa hari, ternyata teman khalifah tadi itu mati. Banyak rakyat yang tahu akan kisah tantangan atau pertaruhan ini kaget betapa benar keyakinan sang khalifah bahwa orang yang dicintainya itu cepat mati.

Apakah sang khalifah bersedih atas kematiannya temannya itu? Tak ada penjelasan. Apakah Anda memiliki kesamaan kisah cinta dengan sang khalifah dan apakah mau dicintai oleh sang khalifah? Pertanyaan ini bisa Anda jawab. Yang terpenting adalah cintailah apa yang wajib dicinta dan bencilah apa yang harus dibenci. Salam, AIM. [*]