Bolehnya Hubungan Intim saat Puasa bagi Syiah

Bolehnya Hubungan Intim saat Puasa bagi Syiah
Ilustrasi/Net



SEGALA amal seseorang dikendalikan oleh ideologinya. Beda ideologi akan merambah pada perbedaan praktek ibadah, akhlak, dan bahkan muamalah. Ketika kita membandingkan antara praktek ibadah syiah dan praktek ibadah yang diajarkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam, kita akan mendapatkan sekian banyak perbedaan. Demikian pula akhlak dan muamalah antara syiah dengan yang diajarkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Pada bagian ini, kita akan menyoroti perbedaan praktek puasa syiah dengan puasa yang diajarkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam.

Kelima, hubungan intim ketika puasa. Yang tidak akan pernah ketinggalan ketika membahas Syiah, masalah ranjang dan kemaluan. Untuk menemukan fatwa unik mereka tentang itu, sangat mudah dan sangat banyak. Dari mulai nikah mutah, mengawini binatang, homo, hingga menjadikan istri orang sebagai gundik mutah. Jika anda membaca fatwa tokoh-tokoh mereka tentang masalah seks, anda mungkin akan berkesimpulan, sebagian besar penduduk iran adalah anak zina. Saking merebaknya zina legal (mutah) di iran.

Tak heran, jika banyak wanita iran korban mutah yang bertahan hidup dengan ganti-ganti pasangan mutah. Tidak bisa dibayangkan, ketika Syiah berkembang di indonesia dan mutah dilegalkan, bagaimanakah nasib para wanita indonesia ketika itu?. Tak terkecuali seks ketika Ramadhan. Mereka memberi kelonggaran sangat luas bagi umat Syiah untuk memuaskan dirinya dengan mukadimah hubungan. Boleh secara sengaja melakukan pemanasan, selama tidak sengaja melakukan hubungan.


Dalam kitab Minhaj As-Shalihin, karya Al-Khoui, dia menjelaskan, "Tidak batal puasa seseorang yang melakukan petting, kemudian secara tidak sengaja zakar masuk ke salah satu lubang (qubul atau dubur). Jika sengaja jimak, namun ragu apakah tadi sudah masuk semua atau ragu berapa yang sudah masuk dari hasyafah, maka puasanya batal, namun dia tidak wajib membayar kaffarah." (Minhaj As-Shalihin, 1/263).

Dimanakan rasa malu mereka terhadap kehormatan bulan Ramadhan. Sementara Allah dan rasul-Nya menyebut orang yang puasa sebagai orang yang meninggalkan syahwat untuk Allah. Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Allah berfirman, "Puasa itu milik-Ku, Aku sendiri yang akan membalasnya. Orang yang puasa meninggalkan syahwatnya, makan-minumnya karena-Ku." (HR. Bukhari 7492, Muslim 1151 dan yang lainnya).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga melarang orang yang puasa untuk melakukan rafats, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, "Puasa adalah tameng, karena itu, janganlah dia melakukan rafats dan bertindak bodoh" (HR. Bukhari 1894, Muslim 1151, dan yang lainnya).

Yang dimaksud rafats adalah melakukan hubungan badan dan mukadimahnya. Semoga Allah melindungi kita dari kejahatan dan tipu daya Syiah. [Ustadz Ammi Nur Baits]