Kisah Pembantu Rasul yang Beragama Yahudi

Kisah Pembantu Rasul yang Beragama Yahudi



DARI Rabiah bin Kab al-Aslami, beliau menceritakan:

Saya pernah menjadi pelayan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Beliau menawarkan: "Wahai Rabiah, kamu tidak menikah?" Aku jawab: "Tidak ya Rasulullah, saya belum ingin menikah. Saya tidak punya dana yang cukup untuk menanggung seorang istri, dan saya tidak ingin disibukkan dengan sesuatu yang menghalangiku untuk melayani Anda." Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kemudian berpaling dariku. Setelah itu beliau bertanya lagi: "Wahai Rabiah, kamu tidak menikah?" Aku pun menjawab dengan jawaban yang sama: "Tidak ya Rasulullah, saya belum ingin menikah. Saya tidak punya .dst." Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kemudian berpaling dariku. Kemudian aku ralat ucapanku, aku sampaikan: "Ya Rasulullah, Anda lebih tahu tentang hal terbaik untukku di dunia dan akhirat." Aku bergumam dalam hatiku: "Jika beliau bertanya lagi, aku akan jawab: Ya."

Ternyata Nabi shallallahu alaihi wa sallam tanya lagi untuk yang ketiga kalinya: "Wahai Rabiah, kamu tidak menikah?" Aku langsung menjawab: "Ya, perintahkan aku sesuai yang Anda inginkan." Selanjutnya, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mendatangi keluarga fulan, salah seorang dari suku Anshar (HR. Ahmad 16627, Hakim 2718 dan at-Thayalisi 1173).


Tidak hanya bersikap baik dalam urusan dunia, Nabi shallallahu alaihi wa sallam juga memperhatikan urusan akhirat pembantunya. Beliau pernah memiliki seorang pembantu yang masih remaja beragama Yahudi. Suatu ketika si Yahudi ini sakit keras. Nabi pun menjenguknya dan memperhatikannya. Ketika merasa telah mendekati kematian, Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjenguknya dan duduk di samping kepalanya. Beliau ajak anak ini untuk masuk Islam. Si anak spontan melihat bapaknya, seolah ingin meminta pendapatnya. Si bapak mengatakan: Taati Abul Qosim (nama Nabi shallallahu alaihi wa sallam). Dia pun masuk Islam. Setelah itu ruhnya keluar. Nabi shallallahu alaihi wa sallam meninggalkan rumahnya dengan mengucapkan: "Segala puji bagi Dzat Yang telah menyelamatkannya dari neraka." (HR. Bukhari 1290).

Demikianlah, betapa indahnya adab yang diajarkan dalam Islam ketika bermuamalah dnegan pembantu. Sayangnya, banyak kaum muslimin yang kurang memahami esensi ini, sehingga mereka justru menutupi keindahan ajaran agamanya sendiri. [Disadur dari http://Islamstory.com, oleh Dr. Raghib As-Sirjani]