Kapankah Dimulainya Takbir?

Kapankah Dimulainya Takbir?
Ilustrasi/Net



KARENA begitu banyak pengampunan dosa di bulan Ramadan, kita diperintahkan oleh Allah di akhir bulan untuk bertakbir kepada-Nya dalam rangka bersyukur kepada-Nya. Allah Taala berfirman,

"Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS Al-Baqarah: 185)

Yang dimaksud dengan takbir di sini adalah bacaan "Allahu Akbar". Mayoritas ulama mengatakan bahwa ayat ini adalah dorongan untuk bertakbir di akhir Ramadan. Sedangkan kapan waktu takbir tersebut, para ulama berbeda pendapat.


Pendapat pertama, takbir tersebut adalah ketika malam idul fitri.
Pendapat kedua, takbir tersebut adalah ketika melihat hilal Syawal hingga berakhirnya khutbah Idul Fitri.
Pendapat ketiga, takbir tersebut dimulai ketika imam keluar untuk melaksanakan salat ied.
Pendapat keempat, takbir pada hari Idul Fitri.
Pendapat kelima yang merupakan pendapat Imam Malik dan Imam Asy Syafii, takbir ketika keluar dari rumah menuju tanah lapang hingga imam keluar untuk salat ied.
Pendapat keenam yang merupakan pendapat Imam Abu Hanifah, takbir tersebut adalah ketika Idul Adha dan ketika Idul Fitri tidak perlu bertakbir.

Syukur di sini dilakukan untuk mensyukuri nikmat Allah berupa taufik untuk melakukan puasa, kemudahan untuk melakukannya, mendapat pembebasan dari siksa neraka dan ampunan yang diperoleh ketika melakukannya. Atas nikmat inilah, seseorang diperintahkan untuk berdzikir kepada Allah, bersyukur kepada-Nya dan bertakwa kepada-Nya dengan sebenar-benarnya takwa.

Ibnu Masud mengatakan bahwa sebenar-benarnya takwa adalah mentaati Allah tanpa bermaksiat kepada-Nya, mengingat Allah tanpa lalai dari-Nya dan bersyukur atas nikmat-nikmat Allah, tanpa kufur darinya.

Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamd. Di penghujung bulan Ramadan ini, hanyalah ampunan dan pembebasan dari siksa neraka yang kami harap-harap dari Allah yang Maha Pengampun.

Kami pun berharap semoga Allah menerima amalan kita semua di bulan Ramadan, walaupun kami rasa amalan kami begitu sedikit dan begitu banyak kekurangan di dalamnya.

Taqobbalallahu minna wa minkum (Semoga Allah menerima amalan kami dan amalan kalian). Semoga Allah menjadi kita insan yang istiqomah dalam menjalankan ibadah selepas bulan Ramadan.

Alhamdulillahilladzi bi nimatihi tatimmush sholihaat (Segala puji bagi Allah yang dengan segala nikmat-Nya setiap kebaikan menjadi sempurna). Wa shallallahu wa salaamu ala nabiyyina Muhammad wa ala alihi wa shohbihi ajmain. [Muhammad Abduh Tuasikal]