Spanyol vs Swedia, Ujian Mental!

Spanyol vs Swedia, Ujian Mental!



SPANYOL dilanda kekusutan jelang laga pembuka Euro 2020 kontra Swedia di Sevilla, Selasa (15/6) dini hari WIB. 'Ini bukan apa-apa," ujar Pelatih Luis Enrique.

Badai luar-dalam mengganggu kiprah La Furia Roja. Belum reda bagaimana derasnya kritik terhadap Enrique terkait pemilihan pemain, skuat Matador harus kehilangan sang kapten Sergio Busquets akibat terpapar Covid-19.

Enrique menolak panik. Baginya, apapun yang tengah melanda Spanyol bukanlah alasan untuk langsung tampil trengginas di laga pembuka kontra Swedia. "Kami akan berusaha memenanginya," kata dia.


Eks Pelatih Barcelona merujuk pada kematian putrinya yang berusia sembilan tahun bernama Xana pada 2019.  Sebelumnya, Enrique memutuskan untuk mundur dari posisinya sebagai pelatih Spanyol demi menemani Xana yang menderita kanker tulang.

"Kami siap menghadapi kesulitan. Ini bukan situasi yang menyenangkan. Akan tetapi, saya telah mengalami hal yang jauh lebih buruk," tuturnya.

Banyak yang meragukan kiprah Spanyol di ajang Euro 2020 kali ini. Gara-garanya, Enrique yang mengabaikan beberapa pemain berpengalaman seperti Iago Aspas dan Sergio Ramos. "Itu pilihan saya, saya yang nanti akan bertanggung jawab," tegasnya.

Meladeni Swedia, tentu saja Spanyol tetap diunggulkan. Mereka menorehkan statistik yang jauh lebih mentereng di fase kualifikasi.

Spanyol datang ke Euro 2020 dengan berstatus juara Grup F babak kualifikasi. Mereka meraih 26 poin dari 10 laga. Rinciannya, 8 kali menang dan hanya dua kali imbang.

Di sisi lain, Swedia benar-benar beruntung bisa lolos. Mereka berstatus runner up grup F dengan meraih 21 poin dari 10 pertandingan yang telah di lakoninya dengan catatan 6 kali meraih kemenangan 3 kali imbang dan 1 kali kalah.

"Saya mengabaikan semua itu (statistik). Ketika memasuki turnamen yang sesungguhnya semuanya akan berbeda. Selalu ada kejutan dan kami akan memastikan itu tak terjadi di laga ini," tandas Enrique.

Sementara itu Swedia telah diberi pelajaran oleh Prancis, Portugal, Kroasia, dan Denmark pada tahun 2020. Hal ini yang membuat pelatih Swedia, Janne Andersson percaya diri menatap Euro 2020 (Euro 2021).

Ia dengan tegas mengatakan Swedia tak gentar dengan persaingan Grup E termasuk ketika harus meladeni Spanyol.

"Kami telah bermain melawan beberapa tim terbaik di dunia tahun lalu: Spanyol, Prancis, Kroasia dan Portugal. Saya pikir kami telah memainkan permainan yang bagus dan belajar banyak dari pengalaman ini," kata Andersson, dilansir dari World Soccer.

Selama 2020, timnas berjulukan The Blue and Yellow ini melakoni 8 pertandingan. Hasilnya, 6 kali kalah dan hanya 2 kali menang. Walau rapornya merah, Andersson menyebut tim asuhannya semakin berkembang.

Buktinya, dalam tiga laga pada 2021, yang 2 di antaranya adalah pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2022, berakhir dengan kemenangan. Kekalahan demi kekalahan pada 2020 dijadikan bahan evaluasi oleh Andersson.

"Kami tahu bahwa kami harus tampil di level teratas. Mudah-mudahan, kami dapat menggunakan apa yang telah kami pelajari untuk menjadi tim yang lebih baik dan lebih tajam di Piala Eropa 2020," ucap pelatih 58 tahun ini.

Dalam persaingan Piala Eropa 2020, Andersson punya satu striker yang namanya sedang naik daun: Alexander Isak. Pemain Real Siciedad ini melesakkan 17 gol dari 34 pertandingan di Liga Spanyol musim ini.

Satu striker Swedia lainnya yang mulai jadi sorotan adalah anak legenda Swedia Henrik Larsson, Jordan Larsson. Bersama Spartak Moscow di Liga Rusia, Jordan yang kini berusia 23 tahun, mulai matang.

Untuk lini tengah, Swedia berporos Italia. Maksudnya, gelandang yang sedang menonjol semuanya tampil di Serie A 2020/2021. Mereka itu adalah Albin Ekdal, Mattias Svanberg, dan Dejan Kulusevski. Sayang untuk nama terakhir dipastikan absen gara-gara positif Covid-19. (bsf)