Kafe Puncak Kopi Lestarikan Bahasa dan Aksara Sunda

Kafe Puncak Kopi Lestarikan Bahasa dan Aksara Sunda
istimewa



INILAH, Megamendung-Kafe dengan panorama alam pegunungan tumbuh subur di Bumi Tegar Beriman, mereka tak hanya menjual makanan yang memanjakan lidah tetapi juga kenyamanan dan spot foto yang menarik. Salah satunya Kafe Puncak Kopi yang berlokasi di Kampung Awan, Jalan Cipendawa, Desa dan Kecamatan Megamendung.

Sesuai dengan namanya,Kafe Puncak Kopi tentunya  menjual kopi jenis arabika ataupun robusta khas Puncak yaitu Kopi Puncak Pajajaran dan Kopi Cibulao. Udara yang dingin dan kopi yang hangat, akan menciptakan mood yang baik bagi para pengunjungnya.

"Puncak Kopi menjual makanan ringan, makanan 'berat', aneka minuman dan tentunya kopi khas Puncak baik itu jenis arabika maupun robusta. Semuanya kami jual dengan harga mulai Rp 5.000 hingga 30 ribuan saja hingga kafe ini menjadi favorit kaum milenial," ucap Manajer Kafe Puncak Kopi Rimawati kepada wartawan, Sabtu, (19/6).

Wanita berkaca mata ini menerangkan selain dimanjakan dengan aneka makanan seperti batagor, spagheti, aneka jus buah ataupun ragam nasi goreng dan juga minuman tradisional, furniture kayu maupun minimalis pastinya akan menambah kenyamanan pengunjung.

"Kami juga memberikan fasilitas olahraga billiard, spot bermain anak, spot foto dan bernyanyi. Di setiap malam akhir pekan dan  demi kepuasan mereka, pengunjung  Kafe Puncak Kopi juga akan dihibur band akustik  akan membawakan lagu-lagu yang enak didengar," terangnya.

Kafe Puncak Kopi merupakan bagian dari unit usaha Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Megamendung yang berkolaborasi dengan pengusaha yang terbiasa berusaha di bidang restoran dan entertainment.

Direktur BUMDes Megamendung Yusuf mengatakan selain sebagai unit usaha jasa pariwisata, Kafe Puncak Kopi juga ikut melestarikan budaya, aksara dan bahasa Sunda karena seperti kita ketahui, banyak tempat usaha di Kawasan Puncak  yang berbahasa Arab tetapi malah seakan melupakan bahasa dan aksara Sunda.

"Berbeda dengan kafe lainnya, Puncak Kopi ingin ikut melestarikan budaya, bahasa dan aksara Sunda.  Kami ingin menjadikan Budaya Sunda  yang sudah mulai hilang Supaya lebih dikenal kembali dan menjadi tuan rumah di tanah indung," kata Yusuf.

Untuk menuju Kafe Puncak Kopi, selain melalui akses utama Jalan Raya Puncak, untuk menghindari kemacetan lalu lintas pengunjung bisa melalui Babakan Madang-Gunung Geulis-Jalan Pasir Muncang-Jalan Alternatif Selatan-Jalan Cipendawa.

"Bagi pengunjung yang tak mau bermacet ria, bisa menempuh jalur Babakan Madang-Gunung Geulis- atau Bojong Koneng-Jalan Lodaya lalu bersatu lagi di Jalan Pasir Muncang-Jalan Alternatif Selatan-Jalan Cipendawa. Mungkin jalan ini berliku, tetapi mungkin saja ada yang memang sengaja mau jalan-jalan menikmati indah dan segarnya udara pegunungan," ungkap Umam salah satu pengunjung dari komunitas motor trail. (Reza Zurifwan)