Muka Dua Memandang Jawa Barat

Muka Dua Memandang Jawa Barat
JIKA ingin suara warga Jawa Barat, kenapa terus-terusan menusuk perasaan masyarakat Tanah Pasundan? Jika ingin dicoblos masyarakat Jabar, bukankah sepatutnya juga berbaik-baik dengan warganya?
 
Jawa Barat adalah magnet pesta demokrasi Pemilihan Presiden sepanjang saat. Maklum, puluhan juta suara ada di sini. Terbanyak di seantero Indonesia.
 
Tidaklah mengherankan jika kandidat capres-cawapres menjadikan Jabar sebagai salah satu kutup pertarungan. Akhir pekan lalu, misalnya, Joko Widodo, Prabowo Subianto, dan Sandiaga Uno menghabiskan waktu akhir pekannya di sejumlah kabupaten/kota di Tanah Pasundan.
 
Di tengah persaingan memperebutkan simpati publik Jabar, pernyataan-pernyataan tim kampanye kerap tak terkontrol tentang Jabar. Misalnya, ada saja tim kampanye yang menuding Jabar sebagai salah satu ladang berita hoaks.
 
Kita sepakat, semua pihak harus melawan informasi bohong. Tapi, betulkah Jabar salah satu gudang hoaks? Ini data yang bisa kita perdebatkan. Misalnya, tentu tak benar membandingkan banyaknya informasi hoaks di Jabar dengan penduduk sekitar 40 juta dengan daerah lain yang penduduknya cuma 3 juta, misalnya.
 
Lagi pula, kecenderungan kita mengukur informasi hoaks selama ini juga kerap keliru. Jika hoaks adalah informasi bohong, tak terkonfirmasi kebenarannya, maka sebenarnya kontestan manapun dalam tarung demokrasi ini cenderung melakukan hal serupa. Sebab, kebenaran bukanlah miliki seseorang, satu kelompok.
 
Lepas dari itu, kita hanya ingin mengingatkan tim kampanye capres-cawapres untuk menyampaikan informasi-informasi kredibel tentang Jawa Barat. Tidak pada tempatnya menuding Jabar sebagai salah satu daerah yang kerap terserang hoaks, apalagi sumber hoaks, dan itu pasti bisa melukai perasaan sebagian masyarakatnya, sementara di sisi lain mereka membutuhkan suara masyarakat Jabar. (*)