Harga Bahan Pokok Naik, Komoditas Holtikultura Anjlok

Harga Bahan Pokok Naik, Komoditas Holtikultura Anjlok

Jumat, 15 Maret 2019 | 22:30 WIB
Harga sejumlah bahan pokok di pasar tradisional di Kabupaten Bandung mengalami kenaikan.. ANTARA FOTO
INILAH, Bandung- Harga sejumlah bahan pokok di pasar tradisional di Kabupaten Bandung mengalami kenaikan. Diantaranya terpantau di Pasar Soreang, seperti komoditas gula pasir. 

Barkah (24), salah seorang pedagang bahan pokok di Pasar Soreang mengaku saat ini membeli gula pasir seberat 50 kg dengan harga Rp 510.000 dari pasar Induk. Padahal, biasanya, ia membeli bahan pokok tersebut sebesar Rp 485.000.

"Saya jual ke konsumen sekarang Rp 12.500 hingga Rp 13.000 perkilogram. Biasanya Rp 11.000. Penyebabnya mungkin karena mau bulan puasa,"kata Barkah di Pasar Soreang, Jumat (15/3/2019).

Menurut Barkah,  kenaikan harga gula pasir sempat dikeluhkan oleh konsumen. Namun karena dibutuhkan, akhirnya mereka tetap membelinya. 

Sementara itu, harga beras relatif normal. Namun, harga beras jenis Jember saat ini mengalami kenaikan.

"Harga beras ada yang naik, ada yang normal. Jenis Jember, dari Rp 10.500 perkilogram menjadi Rp 10.700 perkilogram. Yang lainnya normal dari Rp 9.800 perkilogram," katanya.

Sementara Aldi (19), pedagang telur di Pasar Soreang mengatakan,  harga telur satu pekan terakhir mengalami kenaikan dengan harga Rp 21.500 perkilogram. Namun, saat ini harga sudah kembali normal dengan Rp 21.000 perkilogram.

"Sekarang turun dan relatif normal. Tapi tiga minggu ke depan kata penyalur kemungkinan harga naik. Kemungkinan karena mau puasa," katanya.

Pedagang daging sapi, Ade (33) mengungkapkan harga daging sapi satu bulan terakhir relatif stabil dan normal. Menurutnya, belum ada kenaikan harga yang signifikan. Bulan puasa pun ia mengatakan masih relatif jauh.

"Harga masih standar. Daging untuk baso dijual Rp 80 ribu perkilogram. Kalau daging yang bagus dijual Rp 115.000 hingga Rp 120 ribu. Rata-rata Rp 115.000;" katanya.

Sementara itu,  Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Bandung tamyatakan jika saat ini harga sejumlah komoditas tanaman hortikultura seperti kentang, cabai dan tomat mengalami penurunan atau anjlok. Hal itu disebabkan stok tanaman tersebut yang melimpah karena jadwal tanam yang terjadi serentak.

"Harga di petani jatuh, secara umum ada penurunan. Saat ini harga kentang Rp 4000 perkilogram, padahal  harga standar Rp 12 ribu perkilogramnya," ujarnya.

Selain itu, harga cabai dikisaran Rp 5000 hingga Rp 7000. Padahal standarnya yaitu Rp 15 ribu. Menurutnya, kondisi tersebut membuat harga tanaman hortikultura murah dan membuat konsumen senang. Namun tidak untuk petani.

Tisna mengatakan, jadwal tanam yang dilakukan serentak dan komoditas yang ditanam petani hanya itu-itu saja. Sehingga, pada waktu tertentu terjadi panen melimpah. "Kondisinya sekarang antara suplai dengan demand tidak sebanding, lebih banyak suplai," katanya.

Tisna berharap,  agar petani melakukan perubahan cara pandang saat menanam tanaman hortikultura. Dengan tidak hanya menanam dan menjualnya. Namun juga mengolah komoditas menjadi produk lainnya.

"Momentum bagi kita harus berubah dalam artian harus ada alternatif lain. Jadi di pemasarannya tidak konvensional  dipasarkan ke pasar dalam bentuk segar. Pada saat jatuh, ada prosessing atau  pengolahan misal cabai dijadikan sambal," katanya

Dani Rahmat N. / bsf

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Rabu, 20 Maret 2019 | 21:30 WIB

    Demiz Beberkan Proyek Meikarta Hingga Lapor ke Jokowi

  • Rabu, 20 Maret 2019 | 19:50 WIB

    Tanggul Ambruk, Warga Berharap Segera Diperbaiki

  • Rabu, 20 Maret 2019 | 18:30 WIB

    Warga Pangalengan Gotong Royong Cegah Banjir Susulan

  • Rabu, 20 Maret 2019 | 16:45 WIB

    Pembelajaran Menuju Generasi Emas Tahun 2045

  • Rabu, 20 Maret 2019 | 16:15 WIB

    Gabung UKM Aquatik, Mahasiswa Jauh Lebih Kritis