Banjir Surut, Rumah-rumah Warga Rusak

Banjir Surut, Rumah-rumah Warga Rusak
Tampak rumah-rumah warga rusak pascaditerjang banjir, beberapa waktu lalu
INILAH, Bandung- Banjir di Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah dan Bojongsoang Kabupaten Bandung memang telah surut beberapa pekan lalu. Namun dampaknya masih dirasakan RW 4 Kampung Bojongasih, Kecamatan Dayeuhkolot.
 
Berdasarkan pantauan, di RW 04, sisa sisa lumpur dan tanah bekas banjir masih terlihat jelas di rumah rumah dan bangunan lainnya di kampung itu.
 
Bahkan, sebagian rumah yang ditinggalkan para pemiliknya semasa banjir, banyak yang rusak dengan daun pintu dan jendela susudah tidak ada di tempatnya. 
 
Begitu juga di gang gang pemukiman warga lumpur yang mulai mengering menjadi pemandangan yang biasa setiap usai banjir berlalu di kampung ini. Hampir semua tembok di perkampungan itu bernoda merah kekuningan sisa genangan air dan lumpur. 
 
Rumah-rumah yang berada di bantaran dan tanggul Sungai Citarum sebagiannya terpantau dipadati dengan lumpur. Tidak hanya itu, akses jalan setapak yang membuat mudah menjadi lumpur apabila terkena banjir. 
 
Salah seorang warga  di Kampung Bojong Asih RT 05 RW 04, Joko (50 mengatakan banyak rumah dan kontrakan yang ditinggalkan oleh pemilik dan penghuninya. Karena memang lumpur dan tanah yang memenuhi bangunan terlalu banyak sulit untuk dibersihkan. 
 
Kata dia,  perubahan di kampung tersebut terjadi sejak 2005 saat banjir besar terjadi. Sejak itu, banyak yang pindah dari kontrakan karena sering banjir.
Bahkan pemilik kontrakan dan rumah disana pun membiarkan tempat tinggal mereka.
 
"Kalau dulu sebelum 2005 bikin kontrakan di daerah sini laku keras, masih dibangun saja udah ada yang DP.  Tapi setelah banjir semakin mengganas, kontrakan banyak yang enggak laku karena enggak ada yang mau menempati. Banjir dari 2005 sampai 2010 terus besar. Banyak yang ditinggalkan (kontrakan) dan pindah," kata Joko di RT 05, Selasa (19/3/2019).
 
Namun demikian, kata Joko, meski kondisi di RW 04 sering terendam banjir, ia mengaku memilih bertahan tinggal di bantaran tanggul sungai Citarum. Sebab lokasi kerja yang relatif dekat dan selain itu jika pindah rumah ia mengaku tak punya uang. 
 
Salah seorang warga lainnya, Susi (51) mengatakan, banyak pemilik rumah dan kontrakan yang pindah ke tempat lain. Bangunan yang ada di Kampung Bojong Asih dibiarkan dan beberapa ada yang dibongkar. 
 
"Ada yang pindah ke Baleendah dan Rancamanyar. Kalau punya uang, saya juga ingin pergi. Disini banyak rumah dan kontrakan yang tidak dipakai dan lama lama rusak karena sering terendam banjir," katanya.