Uniknya Bimbel di Desa Bojongsoang, Siswa Bayar Iuran Pakai Sampah

Uniknya Bimbel di Desa Bojongsoang, Siswa Bayar Iuran Pakai Sampah
Ilustrasi
INILAH, Bandung- Unik dan inovatif. Dua kata yang menggambarkan kiprah para pemuda di Desa Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Mereka mendirikan tempat bimbingan belajar (Bimbel), dengan iuran yang tak menggunakan uang, tapi sampah. Lho?
 
Bimbel ini diperuntukkan bagi siswa SD hingga SMP. Dengan membayar iuran bimbel pakai sampah ini, diharapkan warga menjadi terbiasa memilah sampah di rumahnya masing masing. Kemudian, sampah yang mempunyai nilai ekonomi dikumpulkan dan dipakai untuk membayar biaya bimbel putra puteri mereka. 
 
Salah seorang tenaga pengajar bimbel rumah bimbel Desa Bojongsoang, Haikal Azizi Hakim mengatakan bimbel yang dijalankan baru berlangsung kurang lebih satu bulan. Sehingga, para peserta bimbel yang ikut les belum menyerahkan iuran bulanan pertamanya.  
 
Meski demikian, saat ini para orang tua peserta bimbel sudah melakukan pemilahan sampah dan mengumpulkan sampah yang bisa dijual kembali seperti plastik, besi, kertas dan lainnya.
 
" Para orang tua peserta didik mulai memilah dan mengumpulkan sampah. Nah soal banyaknya kami juga tidak mematok, nantinya ditimbang dan kami serahkan ke bank sampah yang telah bekerja sama dengan rumah bimbel ini. Uang hasil penjualan sampahnya untuk mendanai operasional bimbel," kata Haikal saat ditemui di Kantor Desa Bojongsoang, Selasa (26/3/2019).
Dikatakan Haikal, meski tempat bimbel ini baru dibuka, antusiasme warga untuk menitipkan putra putrinya lumayan tinggi. Saat ini saja, ada 15 orang peserta didik. Saat ini tempat bimbel tersebut masih menumpang di salah satu ruangan kantor Desa Bojongsoang. Namun, rencananya tempat belajar akan dipindahkan di daerah Cikoneng, Bojongsoang. 
Haikal menambahkan, tenaga pengajar yang ada di bimbel tersebut berasal dari kalangan pemuda karang taruna setempat. Beberapa diantaranya adalah alumni dan mahasiswa Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung.
"Bimbel dimulai Selasa hingga Sabtu. Dari jam 13.00 Wib sampai jam 17.30 Wib sore. Ada sesi siang dan sore. Tiap sesi dua jam. Kurang lebih peserta 15 orang dari anak SD dan SMP," ujarnya.
Menurutnya, selama satu pekan ini anak-anak didik di bimbel Bojongsoang diliburkan. Sebab mereka tengah mengikuti ujian di sekolahnya masinga-masing. Selain itu dilakukan berdasarkan keinginan orang tua anak didik.
Haikal mengatakan, iuran perbulan dengan sampah dilakukan sebab les bimbel yang ada tidak berorientasi bisnis. Namun membangun sistem penanganan sampah yang baik di masyarakat. Meski begitu, untuk pendaftarannya sendiri dikenakan biaya Rp 25 ribu. Namun ada juga yang tidak bayar.
Haikal melanjutkan, ide membuka bimbel denfan iuran dengan sampah ini, adalah gagasan para pemuda di karang taruna Desa Bojongsoang. Namun sejauh ini, dirinya mengaku belum terdapat perhatian khusus terkait keberadaan les bimbel Bojongsoang dari pemerintah daerah.
"Kami ingin membangun kesadaran kita semua soal pentinnya menjaga kebersihan lingkungan. Masyarakat juga harus menyadari sampah juga kalau dikelola dan dipilah ternyata bisa memberikan nilai tambah ekonomi. Ini salah satu pesan kami para pemuda karang taruna di Desa Bojongsoang kepada masyarakat luas agar bersama sama menjaga kebersihan lingkungan," katanya.

Loading...