Aroma Busuk Politisi Busuk

Aroma Busuk Politisi Busuk
SATU-PERSATU politisi yang patut diduga busuk berurusan dengan KPK. Setelah Ketua Umum DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy, lalu kini pula muncul Ketua DPP Bapilu Jawa Tengah 1 Partai Golkar, Bowo Sidik Pangarso. Betulkah karena ongkos politik yang mahal?
 
Kami tidak sepenuhnya sepakat. Kami bisa memaklumi, biaya politik itu tinggi. Tapi, sejatinya yang membuat tinggi adalah para politisi itu sendiri. Biaya politik tinggi itu linier dengan nafsu kekuasaan politisi yang tak kalah tingginya.
 
Politik elektoral, mungkin terdengar naif, sejatinya adalah soal kepercayaan dan keyakinan publik. Kepercayaan itu sangat tergantung pada maksud politik para politisi. Jika maksudnya berkuasa, upaya mengejar kemenangan politik bisa habis-habisan dan butuh modal besar. Tapi, jika maksud terjun ke kontestasi adalah untuk mengabdi, maka ongkosnya juga tak perlu terlalu tinggi.
 
Tak percaya? Hari-hari ini kita juga mendengar kabar seorang marbot masjid, bermodalkan hanya Rp3 juta, ikut mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif. Apakah dia terpilih atau tidak, itu soal belakangan. Tapi jelas, dia tak punya beban karena yang dia kejar adalah kepercayaan, bukan kekuasaan.
 
Marbot masjid itu hanya satu kisah yang mencuat. Yang terpendam, kami yakini, juga masih banyak. Mereka santai . Karena mereka gila kuasa. Kami punya keyakinan, yang menggelontorkan dana besar itu adalah mereka yang gila kuasanya juga besar.
 
Jika dugaan KPK benar semuanya, maka Bowo termasuklah satu di antara yang gila kuasa itu. Bagaimana tidak, uang yang disebut-sebut hasil menilap itu, setidaknya begitu keyakinan KPK, akan dipakai untuk salah satunya melakukan serangan fajar.
 
Kita patut mengecam ulah politisi-politisi busuk dan rakus seperti itu. Mereka meraih posisi terhormat dengan cara-cara tidak terhormat. Lalu, sejatinya apa yang mereka rasakan ketika menduduki kursi wakil rakyat dengan cara busuk seperti itu? Bagi yang terbiasa berada dalam kehidupan busuk seperti itu, mungkin sudah biasa. Tapi, tentu rakyat tak perlu ikut-ikutan merasakan aroma busuk dari ulah politisi semacam itu. Maka, jalan keluarnya adalah pilihlah politisi dan wakil rakyat yang merebut kursinya dengan cara terhormat.