Menebak Arah Merebaknya Isu Khilafah

Menebak Arah Merebaknya Isu Khilafah
Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto
INILAH, Jakarta- Framing mengenai ideologi khilafah jelang Pemilu Presiden ini kembali booming. Isu ini sempat mencuat dilekatkan pada Prabowo Subianto. Isu ini sempat tenggelam, namun belakangan kembali mencuat. Jika begini, motif isu khilafah mudah ditebak.
 
Persoalan ideologi khilafah kembali mencuat di 19 hari menjelang pelaksanaan Pemilu Presiden (Pilpres). Tak tangung-tanggung, bekas Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) AM Hendropriyono yang mengingatkan persoalan khilafah ini. Menurut dia, Pilpres 2019 ini bukan sekadar Jokowi versus Prabowo, namun merupakan perang antarideologi. "Orang yang berhadapan bukan hanya kubu, kubu dari Pak Jokowi dan kubu dari Pak Prabowo, bukan. Tapi ideologi," kata Hendropriyono, di Jakarta, Kamis (28/3).
 
Lebih lanjut Hendroproyono menyebutkan Pilpres 2019 ini merupakan ajang pertarungan ideologi Pancasila dengan ideologi khilafah. Hendropriyono mengingatkan masyarakat untuk tidak salah memilih dalam Pilpres 2019 ini. "Yang berhadap-hadapan adalah ideologi Pancasila berhadapan dengan ideologi khilafah. Tinggal pilih yang mana. Rakyat harus jelas mengerti," tambah Hendropriyono.
 
Tudingan adanya perang ideologi dalam Pilpres 2019 ini juga muncul dari kalangan pengurus NU struktural. Seperti yang diungkapkan bekas Rois 'Aam PBNU Maruf Amin yang menyebutkan Pilpres 2019 ini merupakan perang ideologi antara kelompok moderat dan kelompok radikal. "Pilpres juga perang ideologi, kelompok moderat dan radikal. Karena isu yang dibangun yang begitu," sebut Maruf awal Februari lalu di Kendal, Jawa Tengah.
 
Mencuatnya kembali persoalan khilafah ini tak terlepas dari dukungan kelompok Islam di belakang kubu Prabowo-Sandi. Kelompok islamis seperti FPI, Forum Umat Islam (FUI) termasuk eksponen aksi 212 juga berada di barisan paslon 02 ini. Kelompok ini dikenal militan dalam memberikan dukungan kepada Prabowo-Sandi.
 
Selain kelompok-kelompok tersebut, eksponen ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) juga teridentifikasi berada di belakang kubu 02. Berkumpulnya kelompok-kelompok ini pada akhirnya memunculkan stigma yang berujung pembingkaian paslon 02 bakal mendirikan negara khilafah.
 
Prabowo maupun Sandi berkali-kali mengklarifikasi ihwal tudingan tersebut. Paslon 02 ini memastikan tak mungkin pihaknya mengganti ideologi Pancasila ke ideologi khilafah. "Saya sudah berkali-kali mempertaruhkan nyawa untuk Pancasila dan NKRI. Jadi, tidak mungkin keluar dari sistem Pancasila dan NKRI," sebut Prabowo tahun lalu saat isu khilafah berhembus di kubunya.
 
Hal senada dikatakan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon. Menurut dia, tidak mungkin Prabowo berkeinginan mengganti ideologi Pancasila ke ideologi khilafah. "Prabowo sangat nasionalis, beliau pertaruhkan jiwa dan raga saat menjadi prajurit TNI hingga saat ini," tepis Fadli.
 
Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang KH Salahudin Wahid juga menepis bila Pilpres 2019 merupakan perang ideologi. Ia menolak keras bila memilih 02 maka ideologi pancasila berubah menjadi khilafah. "Jangan mengatakan kalau pilih 02 menang maka Indonesia akan berubah menjadi khilafah, itu tidak benar. Memang betul mantan anggota HTI mendukung 02, tapi tidak betul 02 mendukung HTI," tepis tokoh senior NU ini.
 
Stigmatisasi dan framing yang ditujukan kepada Prabowo dan Paslon 02 cukup variatif. Kadangkala Prabowo dituding anti-Islam dan menjadi antek Yahudi. Ia juga sempat dituding bakal mengembalikan sistem orde baru bila dirinya menang. Prabowo juga kerap dituding tidak jelas keislamannya. Menariknya berbagai pembingkaian itu saling kontradiksi satu dengan lainnya. Bagaimana mungkin pernah dituding tidak mengerti Islam namun di saat bersamaan dituding bakal mengubah ideilogi pancasila menjadi ideologi khilafah?
 
Baiknya kontestasi Pilpres dibawa dalam debat program kerja dan menjawab persoalan konkret di masyarakat. Framing dan pembingkaian pada akhirnya bakal sia-sia. Publik kian mudah mengakses berbagai informasi terkait informasi yang muncul di publik. Akhirnya, framing khilafah tak lebih sekadar urusan merebut suara jelang Pilpres saja.