• Headline

    Menristekdikti: Dosen Asing Bukan Untuk Sisihkan Dosen Lokal

    Oleh : Asep Pupu Saeful Bahri02 Mei 2018 18:33
    fotografer: Asep Pupu SB
    INILAH, Bandung - Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (‎Menristekdikti), Mohamad Nasir‎ menegaskan kehadiran dosen dari luar negeri bukan untk menggeser posisi dosen Indonesia. Namun, sebagai bagain dari upgrading perguruan tinggi di level internasional.

    ‎Untuk itu, Nasir menegaskan kehadiran dosen asing di Indonesia sifatnya adalah untuk berkolaborasi. Itupun melalui sistem pertukaran, dimana sebagai timbal baliknya dosen dari Indonesia harus dipersilahkan menjajaki perguruan tinggi di luar negeri.

    "Ada persyaratan mutlak kalau perguruan tinggi Indonesia ingin masuk di kelas dunia, ada syarakat yang harus dipenuhi, yaitu satu namanya staf mobility, jadi pertukaran dosen. Dosen Indonesia ke luar negeri lalu dosen luar negeri ke Indonesia, dalam hal kolaborasi. Kalau tifak dilakukan itu nggak bisa," kata Nasir di Kampus Unpad, Jalan Dipatiukur, Bandung, Rabu (2/5).

    Lagipula, lanjut Nasir, sekarang ini jumlah dosen Indonesia yang mengajar di luar negeri lebih banyak daripada dosen asing yang berada di perguruan tinggi Indonesia. Walaupun, menurutnya jumlah dosen yang ke luar negeri masih minim.

    "Sekarang kita masih rendah, sekitar nggak ada sampai1.000 orang. Dari luar masih lebih kecil lagi, di kita masih di bawah 200. Jadi masih banyak kita ke luar negeri," tegasnya.

    Menurut Nasir, kendala program pertukaran dosen ini adalah durasi kerjasama yang singkat. Sehingga, malah membuat anggaran membengkak, sementara proses transfer ilmu juga belum sepenuhnya.

    ‎"Berkali kali urusan imigrasi, ini akan memberikan biaya mahal. Maksud saya bisa berkolaborasi membimbing mahasiswa, atau bisa melakukan penelitian bersama dengan dosen Indonesia dan bisa melakukan inovasi bersama dengan dosen Indonesia,"‎ terangnya.

    Nasir kembali menegaskan bahwa kehadiran dosen asing di Indonesia adalah untuk berkolaborasi. Sehingga, perguruan tinggi jangan sampai menutup diri dan memunculkan paradigma bahwa serbuan tenaga pengajar dari luar negeri ini malah mempersepit ruang bagi dosen Indonesia.

    "Tergantung mereka melihatnya, kalau yang dihembuskan tenaga kerja asing pasti akan negatif, nggak ada yang bicara positif. Tapi kalau yang berbicara kolaborasi, mereka pasti sangat tertarik‎," ulasnya.

    ‎Nasir kemudian mencontohkan, ada sebuah perguruan tinggi di Arab Saudi yang awalnya bahkan tidak masuk ranking ‎500 besar se-dunia. Namun perkembangan pesat terjadi setelah perguruan tinggi tersebut mendatangkan banyak tenaga pengajar dari luar negeri.

    "Dia itu 500 besar dunia ga pernah masuk, tapi apa yang terjadi, dosennya sekarang 40 persen adalah dari luar Aab Saudi, ada dari Amerika, Eropa, Australia dan terus masuk dari negara lainnya, pertumbuhannya menjadi 189 dunia. Kita yang sudah masuk 500 besar dunia dari dulu yang tertinggi baru 277," pungkasnya.[jek]

    Tags :
    # #


    Berita TERKAIT