• Diaspora Indonesia Meminta Kepastian

    Oleh : Daulat Fajar Yanuar19 Agustus 2018 19:11
    INILAH, Janitangor - Rencana pemerintah menjadikan para ilmuwan diaspora yang ingin pulang dan berbakti untuk negeri mendapatkan apresiasi. Hal tersebut dianggap sebagai langkah positif terutama dari segi rencana jangka panjang membangun bangsa.

    Meski demikian, ada beberapa ilmuwan diaspora yang berharap mendapatkan kejelasan rincian terkait rencana yang sedang pemerintah usung.

    Salah satunya yaitu diaspora ilmuwan asal Newcastle University, Inggris, Stevin Snellius Pramana, yang pakar di bidang teknik kimia.

    Dia memberikan masukan, pemerintah musti menerangkan secara jelas terlebih dahulu skema yang akan digunakan seperti apa terhadap mereka.

    Stevin menyatakan, keinginannya tersebut lantaran situasi para diaspora yang sudah kadung terikat kontrak kerja di masing-masing universitas luar negeri yang memiliki kebijakan berbeda terkait poin-poin kontrak kerja tersebut.

    "Kalau jadi PNS dan harus menetap di Indonesia berarti yang harus dipikirkan adalah masalah kontrak kerja di sana (luar negeri), ini yang harus dibicarakan," kata Stevin dalam kunjungannya ke Universitas Padjadjaran, Jatinangor, baru-baru ini.

    Poinnya, kata Stevin, bagi rekan-rekan diaspora sejawatnya yang belum memiliki visa kerja dan identitas 'permanent resident' maka hal itu akan menjadi masalah.

    Sebab ada kebijakan dari masing-masing negara yang membatasi kegiatan para diaspora tersebut di luar termasuk di negerinya sendiri.

    "Kalau di Inggris seperti saya, batas maksimal berada di luar Inggris selama satu tahun yaitu 180 hari," jelas Stevin.

    Bukannya tak ingin mengabdi sepenuh jiwa dan raga kepada negeri ataupun tidak memiliki rasa cinta kepada tanah air di dalam dada. Stevin yang mengajar di Inggris sejak setahun lalu itu menegaskan saat ini pengabdian bisa mereka lakukan melalui kontribusi dari luar.

    Berkontribusi dari luar, katanya, bukan berarti tidak menjunjung rasa cinta kepada tanah air. Hal itu lebih baik daripada sekadar menjadi 'jamur' di dalam negeri.

    "Saya pernah dibilang tidak nasionalis karena tidak pulang ke Indonesia. Bagi saya nasionalisme itu bukan berarti harus pulang, tetapi bisa dilakukan juga di luar negeri. Yang penting kontribusinya kepada negara," jelas Kevin.

    Hal serupa dikatakan Kepala Kantor Internasional Unpad, Ronny Lesmana, yang menyebut para diaspora ilmuwan yang memilih untuk bertahan di negeri orang bukan berarti telah membuat keputusan yang negatif.

    Pasalnya, mereka yang masih berada di luar negeri merupakan aset untuk membangun jembatan antara Indonesia dengan dunia luar. "Mereka memiliki peranan yang penting," jelasnya.

    Ronny yang 'mantan' diaspora itu juga menganjurkan, para diaspora yang ingin pulang ke Indonesia harus memiliki visi dan misi yang kuat sebelum membuat keputusan.

    Di samping itu, mereka juga harus mampu bertahan dengan kondisi di Indonesia yang jelas jauh berbeda. Jika dibandingkan dengan negara-negara luar yang fasilitasnya sudah sangat mumpuni.

    Di sisi lain, pemerintah juga harus realistis dengan kondisi yang ada agar tidak terlalu memasang target tinggi terhadap diaspora yang pulang ke Indonesia.

    TAG :


    Berita TERKAIT