• Sekolah Aloysius Bandung Ajak Siswa Sadari Kekayaan Bangsa

    Oleh : Rianto Nurdiansyah22 Agustus 2018 14:35
    fotografer: INILAH/Rianto Nurdiansyah
    INILAH, Bandung - Di zaman 'now' ini, pengetahuan atau informasi memang dengan cepat dan mudah bisa diakses. Namun rawan bagi anak-anak kaum milenial ini untuk melupakan budayanya sendiri.

    Karena itu, Sekolah Santo Aloysius Bandung bakal membuat sebuah pertunjukan kolosal dengan tajuk 'Ekadasa Windu Aloysius' pada perayaan hari ulang tahun yang ke-88 di Gedung Sabuga, Kota Bandung, pada 29-30 Agustus ini. Akan ada Sekitar 1000 siswa dan siswi dari jenjang TK, SD, SMP hingga SMA yang akan berpartisipasi.

    Mereka akan mempersembahkan sederet mosaik seni yang merupakan buah kreativitas dan bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran di sekolah. Seperti paduan suara, drum band, drama, tarian dan lagu-lagu nusantara dari Sabang sampai Merauke.

    "Dari (tari) Saman Aceh hingga Yamko Rambe Yamko dari tanah Papua. Lengkap dengan sajian angklung, karinding, rampak gendang dan bedug. Sementara lagunya ada Angin Mamiri, Kicir-kicir, Cublak Suweng hingga Hela Rotane," ujar Pengarang Naskah dan Pembuat Skenario pagelaran, F.X. Widaryanto, di Jalan LRE Martadinata, Kota Bandung, Selasa (21/8/2018).

    Tema pertunjukan yang diusung pada pagaleran dengan durasi dua jam setengah nanti yaitu merayakan keragaman, kebhinekaan, toleransi, saling menghargai, menjungnjung tinggi dan saling mengangkat satu sama lain. "Dalam indahnya keragaman latar kultur, suku dan Agama," kata Widaryanto yang mengaku sudah memprsiapkan pertunjukan ini sejak November 2017 lalu.

    Pengurus Yayasan Mardiwijana Bandung dan Satya Winaya atau Penyelenggara Sekolah Santo Aloysius Sherly Iliana mengatakan kegiatan ini digelar agar Siswa dan Siswi bangga pada negaranya. Mengingat, dengan mudahnya budaya luar masuk ke Indonesia tak menutup kemungkinan jati diri bangsa ikut tergerus.

    "Kami ingin mengajak generasi muda zaman ini untuk menyadari dan peduli pada kekayaan negara Indonesia ini. Budaya nusantara sarat makna dan nilai nilai luhur. Supaya tidak tercabut dari akarnya sendiri," ujar Sherly.

    Sherly katakan, gelaran ini akan diikuti siswa siswi Santo Aloysius Bandung dari empat gedung yang berbeda. Yakni di Jalan Trunojoyo, Jalan Sultan Agung, Jalan Sukajadi dan Jalan Batununggal.

    Dia menambahkan, tak hanya melibatkan para siswa dan siswi dalam pegelaran. Pihaknya, kata Sherly, juga mengajak murid untuk memilimi kesadaran dan kepedulian terhadap sesama. Seperti bakti sosial di tiga lokasi.

    "Disadarkan betapa indahnya berbagi. Selain itu juga ada untaian kasih di mana dari uang kecil mereka masuki. Kenclengan. Pada saat satu yahun uang dikunpulon kita berika. Kepada yang membutuhkan," katanya.

    Selain itu, pihaknya pun akan memecahkan rekor Muri lewat salah satu properti yang disuguhkan dalam pegelaran. Nantinya, siswa dan guru akan membuat sketsa kebangsaan raksasa di Sekolah Santo Aloysius, Jalan Batununggal pada 27 Agustus ini.

    "Dengan menggunakan spidol hitam mereka diperkenankan membuat sketsa dengan tema kebangsaan di atas kain sepanjang 2.500 meter," pungkasnya.

    Adapun Ketua Umum Yayasan Satya Winaya sekaligus Sekretaris Umum Yayasan Mardiwijana Bandung, Pastor Agustinus Sudarno mengatakan di era kepemimpinan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo ini selalu mencanangkan karakter religius, mandiri, integritas dan gotong royong.

    Pada pelaksaanan pegelaran nanti, para siswa dan siswi akan dilibatkan untuk melakukan poin-poin itu. Itu bertujuan agar kelak mereka bisa membawa perubahan yang kian positif untuk Negara.

    "Dalam bentuk tarian kita menggali ada pesan-pesan tertentu di balik itu. Atau misalnya rampak gendang, itu dibutuhkan kedisiplinan dan kekompakan," pungkasnya. [gin]

    TAG :


    Berita TERKAIT