• Headline

    Pindad Rampungkan Sertifikasi Medium Tank

    Oleh : Doni Ramdhani13 Juli 2018 21:55
    fotografer: Syamsuddin Nasution
    INILAH, Bandung - Saat ini, Pindad terus melakukan upaya penyelesaian sertifikasi medium tank. Direktur Teknologi dan Pengembangan Pindad Ade Bagdja mengatakan, sertifikasi ini akan rampung dalam satu-dua bulan ke depan.

    "Di jadwal, sertifikasi ini ditargetkan selesai pada akhir Juli atau awal Agustus mendatang," kata Ade saat Seminar Nasional Uji Ledak Ranjau Tank Medium di Graha Pindad, Jumat (13/7).

    Menurutnya, sertifikasi yang dilakukan tersebut meliputi dua mata uji. Yakni, uji mobilitas daya gerak dan daya gempur. Pada Kamis (12/7) lalu, pihaknya melaksanakan uji ledak ranjau di Lapangan Tembak Pussenarmed Batujajar. Uji ledak ranjau ini mengacu pada standar internasional.

    Uji ledak ranjau ini merupakan kal ipertama di Indonesia yangdilakukan terhadap produk medium tank. Ranjau yang diledakkan yakni sebesar 8 kg TNT di bawah hull dan 10 kg TNT di track. Tujuan uji ledak itu untuk verifikasi desain sesuai level proteksi ranjau yang ditetapkan dan menguji kemampuan kendaraan dalam melindungi awak kendaraan .

    "Pengujian Kamis kemarin, secara kuantitatif itu berhasil. Tapi, secara kualitatif harus menunggu hasil yang masih dalam proses," sebutnya.

    Untuk produk ini, Pindad memiliki dua unit. Yakni, prototipe I yang dibangun bersama Turki dan prototipe II yang dibangun di Bandung dengan sejumlah improvement dari prototipe I. Improvement yang dilakukan berupa penguatan kompartemen driver hingga memperkuat kendaraan sesuai spesifikasi disesuaikan dengan kebutuhan user.

    Ade menjelaskan, usai sertifikasi nantinya Pindad akan melakukan tahap awal produksi. Sesuai dengan visi perusahaan, pihaknya akan meningkatkan kapasitas dan kapabilitas untuk kemandirian alat utama sistem pertahanan (alutsista) Indonesia. Rencananya, medium tank ini akan menggantikan 400an unit AMX-13 sesuai kebutuhan TNI AD.

    Namun, Pindad saat ini hanya mampu memproduksi sebanyak 100 unit/tahun. Kapasitas produksi itu pun terpenuhi jika produksi kendaraan tempur lain berhenti. Untuk itu, ke depan pihaknya akan melakukan strategi produksi yang disesuaikan dengan kapasitas produksi dan penjualan.

    "Yang pasti, pada 2019 mendatang kita akan memulai produksi medium tank ini. Sebab, pada akhir 2018 ini rencananya mesin besar yang akan dipasang akan datang. Jadi proses sertifikasi medium tank ini ditargetkan selesai pada tahun ini," ujarnya seraya menyebutkan kandungan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) ditargetkan mencapai 30-40%.

    Produk tank medium ini merupakan program pemerintah yang termasuk dalam tujuh pengembangan strategis Kementerian Pertahanan. Kehadiran tank ini merupakan bukti kemampuan industru pertahanan dalam negeri menghasilkan produk inovatif berteknologi tinggi dalam mendukung kemandirian alutsista menjaga kedaulatan NKRI.

    Usai mine blast test, tank medium ini dipersiapkan untuk serangkaian uji sertifikasi bersama TNI AD. Setelah mendapat sertifikasi lulus uji coba, selanjutnya memasuki tahapan produksi untuk memenuhi kebutuhan modernisasi tank medium di TNI AD dan pasar ekspor.

    Sebelumnya, pada akhir 2017 lalu Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menegaskan satu unit medium tank rampung dikerjakan Pindad. Untuk itu, kendaraan tempur menggunakan beroda rantai atau trackling ini siap dipamerkan pada parade HUT ke-72 TNI di Cilegon.

    "Untuk medium tank ini satu sudah beres. Nantinya akan diproduksi secara massal di sini (Pindad)," kata Ryamizard saat meninjau kesiapan turret medium tank di PT Pindad, beberapa waktu lalu.

    Menurutnya, medium tank pertama buatan dalam negeri relatif cocok dengan medan di Tanah Air. Dengan bobot 37 ton, tank ini bisa melewati jembatan di Sumatera dan Jawa yang mayoritas hanya bisa menahan beban seberat 40 ton. Dia menyebutkan, tank Leopard relatif sulit dijalankan karena bobotnya mencapai 60 ton.

    Dia menyebutkan, dari kebutuhan sebanyak 500 unit itu pihaknya akan memesan sebanyak 100 unit. Untuk pendanaan, Ryamizard mengaku dana sebesar Rp100 triliun sudah dialokasikan pada APBN lima tahunan.

    "Kebutuhan kita sebenarnya banyak. Pokoknya, tank lama itu diganti semua. Tapi, untuk tahap awal kita memesan 100 unit dulu," ucapnya.

    Medium tank ini merupakan hasil pengembangan bersama FNSS Turki. Saat ini, kesiapan progress medium tank beserta turret 105 mm ini dilakukan bersama CMI Defense Belgia. Proyek medium tank merupakan program negara yang termasuk dalam tujuh pengembangan strategis Kementerian Pertahanan.[jek]

    TAG :


    Berita TERKAIT