• Tahun Politik Tak Pengaruhi Situasi Ekonomi

    Oleh : Doni Ramdhani01 Agustus 2018 17:24
    fotografer: Doni Ramdhani
    INILAH, Bandung - Pada 2018 ini, Indonesia sudah melalui Pilkada Serentak di sejumlah daerah. Pada 2019 mendatang, negeri ini pun akan dilangsungkan proses Pemilu dan Pilpres secara bersamaan.

    Menanggapi hal itu, pengamat ekonomi Faisal Basri mengatakan tahun politik itu tak memberikan dampak negatif terhadap situasi perekonomian nasional. Bahkan, dia optimistis laju perekonomian tahun depan justru akan meningkat.

    "Sebenarnya, setiap tahun di Indonesia itu tahun politik. Indonesia sudah kebal. Masyarakat sudah bisa memisahkan antara kegiatan politik dan ekonomi," kata Fasial saat Seminar Nasional Ekonomi: Telaah Peluang dan Tantangan ke Depan di Bandung, Rabu (1/8).

    Bahkan, peristiwa politik seperti unjuk rasa buruh setiap 1 Mei memberikan dampak positif pasar modal Indonesia. Dia mengaku, sebelum 1 Mei ditetapkan sebagai hari libur nasional, pasar saham Tanah Air justru mencetak rekor baru. Selama kegemuruhan politik itu berjalan aman dan kondusif, kegiatan politik tidak berdampak negatif terhadap perekonomian nasional.

    "Untuk itu, saya yakin di tahun politik 2019 itu justru pertumbuhan ekonomi akan naik. Prediksinya menjadi 5,1% di tahun depan. Tahun ini, laju pertumbuhan ekonomi sebesar 5,0%," ucapnya.

    Faisal mengaku, sehebar apa pun guncangan politik di Indonesia itu tak sampai meneteskan darah rakyat. Berbeda halnya dengan situasi di negara lain. Seperti pemilu di India dan Pakistan yang diberitakan selalu menelan korban jiwa.

    "Bahkan, businessman di kita itu bisa ngomong, pemilu-pemilu dan presiden berubah, gua nggak ngaruh tuh," tambahnya.

    Meski demikian, Faisal mewanti-wanti agar alam demokrasi Tanah Air tetap harus dijaga. Diharapkan, setiap kegiatan politik yang dijalankan itu tidak menimbulkan situasi krisis. Terpenting, kata dia, aspek civil liberty dan political culture di Indonesia diharapkan semakin baik.

    Senada dengan itu, Ketua Kadin Jabar Agung Suryamal meyakini roda ekonomi dalam negeri relatif tak terhambat dengan situasi politik yang berlangsung. Menurutnya, industri pariwisata bisa menjadi lokomotif penggerak roda perekonomian. Pasalnya, industri ini tidak terganggu dengan krisis apa pun yang terjadi.

    "Indonesia itu memiliki banyak destinasi pariwisata yang bisa diandalkan. Orang selalu butuh refreshing dan pleasure yang menjadi andalan industri pariwisata," ucapnya.

    Kendati demikian, Agung memberikan catatan untuk pertumbuhan industri pariwisata ini. Sebab, mayoritas 600 destinasi wisata di Jabar itu masih terkendala akses dan infrasturktur. Situasi ini menjadi penghambat untuk menarik jutaan wisatawan domestik dan mancanegara.

    "60% destinasi wisata di Jabar ini akses dan infrastruktur jalannya relatif buruk. Bagaimana wisatawan bisa nyaman masuk ke sana?" tegasnya.

    Sebelumnya, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jabar merilis penyelenggaraan Pilkada di Jabar 2018 memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Namun, kontribusinya relatif tidak terlalu signifikan. Angka kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Jabar hanya sekitar 0,3-0,4%.

    Meski demikian, dia menuturkan persiapan menjelang Pilkada 2018 ini merupakan faktor pendorong pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV 2017. Faktor pendorong lainnya yakni meningkatnya belanja pemerintah seiring dengan pencairan dana bantuan sosial dan meningkatnya kegiatan konstruksi proyek infrastruktur. Momen pilkada ini pun memberikan dampak terhadap meningkatnya konsumsi masyarakat.[jek]

    TAG :


    Berita TERKAIT