• Faisal Basri: Rupiah Kian Terpuruk, Pejabat Egois

    Oleh : Doni Ramdhani05 September 2018 16:00
    INILAH, Bandung - Rupiah kian hari semakin terpuruk. Di pasar uang global, nilai tukar mata uang Indonesia ini mendekati Rp15 ribu per dolar AS.

    Ekonom Faisal Basri memiliki pandangan tersendiri terkait hal ini. Dia bahkan menyebutkan, para pejabat, menteri, dan petinggi bangsa ini tidak memiliki sense of crisis.

    "Para pejabat dan menteri kita, sekarang malah 'berternak' dolar. Egois. Laknat kepada mereka," kata Faisal di Bandung, beberapa waktu lalu.

    Menghadapi situasi tersebut, dia menyarankan pemerintah Indonesia tidak menerapkan kebijakan defensif. Ibaratnya, strategi ofensif dalam sepak bola justru bisa menggolkan gawang lawan. Namun, strategi bertahan paling hanya menghasikkan hasil seri.

    Faisal menuturkan, pemerintah bisa berdiskusi dengan para pelaku industri untuk meningkatkan kapasitas produksi. Rata-rata, industri bisa meningkatkan kapasitas produksi sekitar 30%. Kapasitas idle itu bisa dilakukan tanpa harus mendirikan pabrik baru.

    "Gampangnya, jangan larang produk luar negeri. Nanti, negara lain juga bisa melarang produk kita," ujarnya seraya menyebutkan pejabat yang berada di luar negeri agar bisa membantu untuk mencari dan membuka pasar ekspor.

    Faisal mencontohkan, kapasitas industri otomotif Tanah Air mampu memproduksi mobil sebanyak dua juta unit. Saat ini, kapasitas produksi otomotif yang terpakai baru sebanyak satu juta unit mobil.

    Di sisi lain, Australia tidak memiliki pabrik mobil. Selama ini, untuk memenuhi kebutuhan mobil di Negeri Kanguru dipasok langsung dari Jepang. Padahal, dilihat dari jarak tempuh yang bisa hemat dua pekan itu sebenarnya Indonesia yang memiliki pabrik perakitan mobil bisa memasok kebutuhan mobil Australia.

    "Yang dibutuhkan, hanya renegosiasi dan mengoptimalkan jaringan perdagangan luar negeri kita. Seperti di konsulat-konsulat kita di luar negeri bisa menawarkan dengan menyediakan minuman kopi tubruk asal negeri kepada para tamu," jelasnya.

    Hal utama yang harus menjadi perhatian, dia mengingatkan ada sebanyak 7,5 miliar pasar global. Jumlah pasar domestik negeri ini hanya 260 juta. "Kebijakan ofensif itu harus segera dilakukan untuk menggapai 7,5 miliar pasar dunia," tegasnya.

    TAG :


    Berita TERKAIT