• Batan Dorong Industri Manfaatkan Teknologi Nuklir Terapan

    Oleh : Doni Ramdhani07 September 2018 19:17
    fotografer: Doni Ramdhani
    INILAH, Bandung - Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) memiliki tiga reaktor unggulan. Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto mengharapkan, dunia industri bisa memanfaatkan teknologi nuklir terapan ini lebih luas.

    Dia menuturkan, ketiga reaktor itu yakni reaktor Training Research Isotope by General Atomic (TRIGA) 2000 berdaya 2 mW di Bandung berdaya, reaktor Kartini berdaya 100 kW di Yogyakarta, dan reaktor Serba Guna GA Siwabessy berdaya 30mW di Serpong. Hingga kini, ketiga reaktor itu beroperasi dan memberikan layanan terbaik bagi masyarakat.

    Layanan yang diberikan ketiga reaktor itu yakni jasa iradiasi, pengujian sampel untuk penelitian, dan produksi radioisotop yang sangat berguna di bidang pertanian, kesehatan, industri dan lingkungan.

    "Sampai sekarang, proporsi pemanfaatan itu kalau dibagi-bagi menjadi 40% untuk riset, 30% untuk kesehatan, dan 30% untuk industri," kata Djarot di Bandung, Kamis (7/9).

    Menurutnya, sejauh ini jumlah pelanggan yang memanfaatkan layanan Batan terhitung masih puluhan. Namun, dari puluhan pelanggan tersebut memiliki unit cabang langganan yang jumlahnya mencapai ratusan. Djarot mengaku, hal itu dikarenakan aturan yang melarang Batan untuk komersil. Tapi, para pelanggan yang mayoritas BUMN itu yang melakukan komersialisasi.

    Dia menyebutkan, guna mendekatkan diri dengan masyarakat pengguna pihaknya temu pelanggan di Pusat Sains dan Teknologi Nuklir Terapan (PSTNT) Bandung. Kegiatan temu pelanggan ini juga digunakan sebagai ajang mempromosikan keunggulan pemanfaatan teknologi nuklir dalam menyelesaikan berbagai permasalahan di masyarakat.

    "Reaktor TRIGA 2000 sebenarnya dapat dimanfaatkan secara optimal oleh berbagai pihak. Di antaranya perguruan tinggi, rumah sakit, industri, dan bahkan pemerintah daerah. Namun, dikarenakan belum meluasnya jumlah stakeholder yang dapat memanfaatkan teknologi nuklir itu menjadi kendala tersendiri dalam mengoptimalkan fungsi reaktor TRIGA 2000," ucapnya.

    Sedangkan, Kepala PSTNT Jupiter Sitorus Pane menyebutkan belum lama ini pihaknya mengantongi perpanjangan izin operasionalisasi reaktor TRIGA 2000 yang beroperasi sejak 1965. Berdasarkan SK Kepala No 500/IO/Ka-BAPETEN/29-V/2017, lembaga pemerintah nonkementerian ini mendaptkan izin pengoperasi selama sepuluh tahun ke depan.

    "Diperpanjangnya izin ini diharapkan ke depan pengoperasaian rekator TRIGA 2000 dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat luas," ucapnya.

    Secara perhitungan ekonomi, diterapkannya teknologi nuklir ini relatif lebih kompetitif daripada batubara. Nuklir tidak mengeluarkan CO2 yang pasti dihasilkan batubara. Penerapan teknologi ini pun akan mengendalikan atau trade-off pajak karbon. Apalagi, saat ini harga minyak sebagai sumber energi terus melonjak. Terlebih pada 2050 mendatang, di negara ini diprediksi tidak akan ada lagi sumber energi fosil.

    Selama ini, aplikasi teknologi nuklir terapan yang menghasilkan radio isotop secara luas diterapkan untuk terapi kanker, tumor, kaki gajah, dan pembuatan obat bertanda yang bisa terdeteksi gerakannya di dalam tubuh. Selain untuk kedokteran nuklir, hasil dari reksi dingin berbahan baku uranium ini digunakan untuk kebutuhan industri, lingkungan, dan pertanian.[jek]

    TAG :


    Berita TERKAIT