• 2025, Pemerintah Bidik Ekspor TPT US$30 Miliar

    Oleh : Doni Ramdhani14 September 2018 20:15
    INILAH, Bandung - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, dalam beberapa tahun ke depan pemerintah akan meningkatkan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT). Targetnya, pada 2025 mendatang diharapkan industri Tanah Air bisa mengekspor TPT senilai US$30 miliar.

    Menurutnya, sejauh ini ekspor Indonesia masih mengandalkan captive market ke Amerika dan Uni Eropa. Khusus pasar Uni Eropa, saat ini pemerintah berunding terkait perdagangan bebas melalui Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (United States Environmental Protection Agency/USEPA). Perundingan kerja sama ekonomi yang komprehensif itu diupayakan selesai pada pertengahan 2019 mendatang.

    Rencananya, perjanjian saling menguntungkan itu mulai berlaku pada 2020 mendatang. Adanya kerja sama itu akan mendorong ekspor kita semakin besar. Selain itu, lapangan kerja mencapai puluhan juta mungkin tersedia di sektor tekstil. Sebab, industri tekstil ini nantinya relatif lebih kreatif dan inovatif. Ujungnya, tenaga desainer tekstil pun lebih bekerja lebih banyak untuk menggerakan industri fesyen.

    "Tahun 2025 nanti, kita menargetkan ada peningkatan ekspor TPT. Melalui USEPA, kita akan masuk ke pasar utama Eropa. Seluruh tekstil yang diperdagangkan di sana nilainya bisa mencapai US$800 miliar. Indonesia sejauh ini baru bisa merebut pangsa pasar 2%. Kalau kita bisa dinaikkan menjadi 5% saja, itu sudah lebih dari US$30 miliar," kata Enggartiasto saat Sosialisasi Road Map TPT Nasional bersama Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) di Bandung, Jumat (14/9).

    Terkait ekspor ke Amerika, dia menyebutkan nilainya mencapai US$4,9 miliar. Kapitalisasi itu sempat turun ke angka US$4,3 miliar namun pada tahun depan akan kembali meningkat. Khusus pasar Cina, sejauh ini nilainya melebihi US$1 miliar dolar. Capaian ini diakuinya meningkat dibandingkan kondisi pada tiga tahun sebelumnya yang hanya sebesar US$700 juta.

    "Ekspor ke pasar Cina sekarang lumayan meningkat tajam. Ekspor ke Amerika juga yang dulu cenderung turun sekarang agak naik. Tiga hari lalu, saya kedatangan tamu presiden CCI (Cotton Council International) yang akan investasi cukup besar menyimpan kapas untuk meningkatkan penjualan kapas dua kali lipat dalam dua tahun ke depan," jelasnya.

    Mengenai kebutuhan pasar dalam negeri, Enggartiasto menyebutkan pemenuhannya masih impor senilai US$10 miliar. Industri TPT dalam negeri baru bisa mengisi kebutuhan domestik senilai US$3 miliar dolar. Sisanya, 70% kebutuhan itu masih impor.

    Dia menuturkan, sejauh ini pemerintah masih menyusun road map TPT nasional terkait iklim usaha, akses pasar, hingga sumber daya manusia. Diharapkan, road map yang dihasilkan itu lebih komprehensif dan ada perbaikan. Rencananya, untuk peningkatan SDM ini Kementerian Perindustrian membuka sekolah khusus setingat S2. Mengenai iklim usaha, pendidikan diakuinya sebagai lini dan memiliki akses global di perdagangan online.

    "Solusi yang kita tawarkan untuk meningkatkan industri TPT ini yakni investasi memperluas industri. Untuk itu, kita lebih fokus ke Jateng untuk industri ini. Karena, bagaimana pun selisih pengupahan antara Jabar dan Jateng begitu tinggi, sehingga untuk industri ini lebih baik di Jateng," jelasnya.[jek]

    TAG :


    Berita TERKAIT